Registrasi Kartu Simpati

simpatiPagi ini seorang kawan meminta tolong pada saya untuk memberitahunya cara melakukan registrasi/pendaftaran kartu GSM prabayarnya. Kartunya adalah Telkomsel Simpati. Segera saya minta amplop pembungkus simcard tersebut. Saya cuma mau tahu bagaimana prosedur registrasi untuk produknya Telkomsel itu (bukan pengguna Simpati sih jadi kurang paham 😀 ). Beberapa hal yang harus didaftarkan adalah nama, alamat, dan nomor kartu identitas (SIM atau KTP misalnya).

Di lembar petunjuknya ternyata cara melakukan registrasi kartu prabayar itu cukup mudah. Tinggal masukkan simcard, nyalakan ponsel, dan akan muncul menu isian data pelanggan. Dituliskan juga, jika menu isian tadi tidak muncul kita bisa mencoba masuk ke menu TSel lalu pilih menu Registrasi Kartu. Dua metode meregistrasikan kartu tersebut, dua-duanya tidak bisa saya gunakan 😦 . Setelah memasukkan simcard, menyalakan ponsel, menu yang dimaksud tidak muncul-muncul. Saya pun mencoba langkah kedua, melalui menu TSel tadi. Di layar cuma muncul tulisan “Wait”. Saya pun sabar menunggu sampai kurang lebih 1 menit dan tetap saja tidak muncul menu isian data pelanggan tadi. Dua langkah tadi akhirnya saya ulangi lagi sampai tiga kali. Susah juga meregistrasikan kartu prabayar ini. Oh ya, dengan simcard terpasang saya tidak bisa menelepon nomor-nomor layanannya Telkomsel (cek pulsa, dll). Tadinya saya berniat menghubungi customer servicenya Telkomsel untuk menanyakan mengapa sulit melakukan registrasi.

Sebenarnya cara ini cukup ampuh untuk memaksa orang melakukan registrasi kartu prabayarnya. Dulu saya membeli Telkomflexi pun demikian, harus registrasi dulu baru supaya kartunya bisa digunakan. Tapi prosesnya cepat, menu registrasi otomatis muncul ketika ponsel dihidupkan. Ah berpikir positif saja deh….mungkin servernya Telkomsel sedang down/overload sampai-sampai mau registrasi pun jadi susah.

Advertisements

Pergeseran Fungsi SMS

Belakangan ini di televisi banyak sekali tayangan iklan yang menawarkan layanan melalui sms (short message services). Mulai dari ramalan bintang harian, lelucon, undian, cerita kehidupan selebritis, kotbah agama, dan masih banyak varian lainnya. Tidak hanya di televisi, saya pun sering sekali mendapat iklan semacam itu melalui pesan singkat ke handphone saya. Menyebalkan. Ini mirip seperti apa yang ditulis oleh Pak Budi Rahardjo di blognya.

smsSeingat saya layanan semacam ini dulu diawali dari acara reality show semacam AFI, Indonesian Idol. Penonton diminta berpartisipasi dengan mengirimkan pesan singkat untuk mendukung salah satu kontestan acara. Tiap SMS yang dikirimkan bernilai sekitar Rp2000,- Tarif seperti itu jauh lebih mahal daripada tarif SMS reguler yang berada di kisaran Rp350,- (untuk beberapa operator tarif SMS bahkan lebih murah). Layanan pesan singkat semacam ini dikenal dengan layanan SMS premium. Biasanya dicirikan dengan nomor tujuan yang singkat, biasanya 4 digit angka.

Ada pergeseran fungsi dan pemanfaatan dari pesan layanan singkat ini. Kalau pada awal kepopulerannya layanan ini digunakan untuk komunikasi standar, sekarang beberapa pergeseran fungsi sudah terjadi. Yang paling banyak terjadi adalah pemanfaatan SMS premium ini untuk mengeruk keuntungan dari tiap SMS yang dikirimkan. Sebal sekali rasanya tiap kali ada iklan semacam itu di televisi. Dalam benak saya itu salah satu bentuk pembodohan masyarakat. Misalnya SMS harian dari selebritis, sampai sekarang saya tidak percaya kalau SMS semacam itu benar berasal dari si selebritisnya. Tapi apakah semua orang seperti saya, tidak mau gampang percaya? Yang lain adalah SMS tentang undian berhadiah. Secara tidak langsung ini membodohi masyarat. Misalnya dengan semakin banyak SMS maka kemungkinan menang semakin besar. Toh sampai sekarang kita tidak pernah tahu bagaimana kelanjutan dan transparansi dari undian semacam itu. Orang yang mengirimkan SMS tentu akan berpikir, oh saya masih belum menang. Tapi apakah dia bisa bertanya, siapa sih yang menang? Dengan menggunakan cara ini bayangkan keuntungan yang bisa diraih oleh penyelenggara layanan semacam ini. Penggunaan SMS juga sekarang populer digunakan oleh beberapa acara kuis di televisi. Kalau dulu orang perlu mengirimkan kartu pos atau fax, sekarang penonton tinggal mengirimkan SMS untuk ikut kuis.

Tidak semua acara yang menggunakan layanan ini hanya mengejar keuntungan belaka. Minggu lalu misalnya saya melihat acara Republik BBM menggunakan layanan SMS untuk mengumpulkan dana sumbangan bagi perbaikan bangunan sekolah-sekolah dasar. Tiap SMS dari pemirsa dihargai Rp5000,-. Bayangkan berapa banyak dana yang bisa terkumpul dalam sekejap. Jika seribu orang saja mengirimkan masing-masing 1 SMS, maka akan terkumpul Rp 5000000,-. Belum lagi kalau tiap orang mengirimkan lebih dari 1 SMS.

Singkatnya, teknologi pesan layanan singkat atau lebih populer SMS ini sudah berkembang dalam pemanfaatannya. Tinggal bagaimana kearifan penonton dan pengguna layanan SMS dalam menghadapi berbagai tawaran yang membanjir belakangan ini.

Ketik REG <spasi>…Kirim ke 1234….ha…ha…ha…jangan mudah diiming-diimingi deh.

NTP Client Di Linux

Hari ini saya diminta oleh atasan saya untuk mengkonfigurasi perangkat SCS (serial console switch Secure Console Server). Sebenarnya saya hanya disuruh menambahkan servis sinkronisasi waktu (time synchronization) dengan NTP (network time protocol) server.

SCS tersebut menggunakan sistem operasi Red Hat Linux. Ada beberapa tahap untuk mengaktifkan servis ini, kira-kira seperti ini :

  1. Edit file /etc/ntp.conf, tambahkan baris berikut di bagian akhir file ntp.conf:
    server <ip_ntp_server>
  2. Edit juga file /etc/ntp/step-tickers dengan menambahkan baris :
    <ip_ntp_server>
  3. Jalankan servis ntpd dengan perintah berikut :
    # service ntpd start
  4. Supaya servis ini otomatis berjalan ketika mesin baru dinyalakan, maka perintah yang harus dijalankan adalah :
    # chkconfig ntpd on

Karena SCS hanya menggunakan mode teks, semua tahap editing teks saya lakukan dengan menggunakan vi.

Oh ya dari tadi saya belum menjelaskan apa itu SCS. SCS adalah perangkat switch yang menyediakan akses ke port serial (serial port) dari beberapa perangkat sekaligus. Gampangnya begini = Misalnya kita punya 10 server yang harus dikonfigurasi. Server bisa dikonfigurasi melalui port serialnya. Proses konfigurasi misalnya kita lakukan dengan menggunakan laptop yang dihubungkan dengan server lewat port serial. Nah daripada repot memindah-mindahkan kabel serial dari satu server ke server yang lain, hubungkan saja semua server yang akan dikonfigurasi ke SCS. Lalu akses SCS tadi dari laptop, jadi proses konfigurasi dari 1 server ke server lainnya cukup dilakukan dengan command saja tidak perlu memindahkan konektor serialnya 😀 Gampangnya seperti itu. Maaf penjelasannya terlalu sederhana (kalau tidak mau dikatakan bodoh..he..he..he..)

Lalu mengenai NTP saya juga belum jelaskan. Singkatnya NTP adalah sebuah protokol yang memungkinkan sebuah server menjadi acuan waktu bagi semua komputer yang terhubung dengannya. Semua komputer yang terhubung dengan server dan melakukan sinkronisasi waktu disebut sebagai NTP Client. Proses komunikasi antara server dan client untuk sinkronisasi dilakukan dalam bentuk komunikasi data – packet switching.

Waduh ngantuk berat, jadi gak konsen nulisnya…nanti sajalah saya edit lagi postingan ini. Ada beberapa hal yang harusnya saya jelaskan lebih lanjut, seperti misalnya apa itu SCS, apa fungsinya, apa itu NTP dll (Update : sudah saya lengkapi tulisannya tuh 😀 ).

Kamus Di Ubuntu

Membaca postingan Jay berjudul Aplikasi Kamus Offline di Komputer (thanks untuk share informasinya 😀 ) ; saya tertarik menginstal StarDict di Ubuntu . StarDict adalah sebuah aplikasi kamus yang ternyata canggih. Paket instalasi utama Stardict sudah ada dalam DVD repositorynya Ubuntu 7.04. Yang belum ada hanya library kamusnya saja. Library dari berbagai jenis kamus bisa didownload di sini. Ada macam-macam kamus yang bisa diambil, kamus Inggris-Indonesia, Inggris-Inggris, Prancis-Inggris, Jerman-Inggris, dan banyak lagi lainnya.

Instalasi StarDict di Ubuntu saya lakukan dengan bantuan Synaptic Package Manager. Tinggal Search dengan keyword stardict. Lalu tandai semua yang berhubungan dengan Stardict. Setelah selesai proses instalasinya, saya tambahkan library yang sudah didownload. Misalnya library kamus Inggris-Indonesia dengan nama file stardict-quick_eng-ind-2.4.2.tar.bz2. Perintahnya adalah seperti ini :

$ sudo cp stardict-quick_eng-ind-2.4.2.tar.bz2 /usr/share/stardict/dic
$ sudo tar -xvjf stardict-quick_eng-ind-2.4.2.tar.bz2

Kita bisa menginstal banyak library kamus sekaligus; ulangi perintah di atas untuk tiap kamus. Setelah selesai, baru jalankan Stardict. Ketika kita menggunakan opsi Scan, StarDict akan otomatis memunculkan pop-out ketika ada kata di layar monitor yang kita block. Tampilannya seperti gambar berikut ini :

stardict

Garis merah di atas saya buat untuk menandai pop-out yang muncul. Contoh di atas saya ambil ketika sedang membuka halaman di Wikipedia. Di situ kelihatan ada keterangan kata “memory” dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Jika Anda menginstal banyak library kamus, maka jendela pop-out yang muncul akan semakin panjang.

Aplikasi yang sangat menarik, canggih….. 😀

Buka File CHM

Tadi saya belajar 1 hal lagi di Ubuntu (dapat dari sini), yaitu cara menginstal program untuk membuka file CHM (compiled HTML). Cara yang tadi saya dapat adalah dengan perintah berikut ini :

$ apt-get install xchm

Hal lain yang saya baru tahu adalah perintah apt-get install hanya membaca dari file /etc/apt/sources.list

Baca Partisi Windows Dari Ubuntu

Hal lain yang saya pelajari dari Ubuntu adalah cara mengakses partisi milik Windows (karena saya menginstal Ubuntu dual boot dengan Windows) yang berjenis NTFS. Ubuntu setahu saya tidak menggunakan sistem auto mount untuk partisi Windows yang ada di dalam harddisk. Perlu ada sedikit utak-atik di file fstab . Setelah bertanya kepada Google saya memperoleh jawabannya di :

http://ubuntuforums.org/showthread.php?p=685273.

Langkah-langkah untuk mengakses partisi NTFS milik Windows adalah seperti berikut ini :

  1. Buat backup dari file fstab dengan menggunakan perintah :

    $ sudo cp /etc/fstab /etc/fstab_backup

  2. Buka file fstab dengan menggunakan GEdit dengan perintah :

    $ sudo gedit /etc/fstab

  3. Ganti baris yang menyatakan partisi NTFS dengan baris berikut :

    /dev/hda5 /media/windows ntfs nls=utf8,umask=0222 0 0

    Perintah di atas adalah contoh jika partisi NTFS yang akan diakses adalah /dev/hda5 dan akan dimount ke direktori /media/windows

  4. Refresh konfigurasi dengan perintah :

    $ sudo mount -a

  5. Restart PC dan secara otomatis Ubuntu akan mounting partisi NTFS tersebut.

TeXLive Di Linux

Tadi saya mencoba menginstal \LaTeX di Ubuntu. Instalasi dilakukan dengan menggunakan CD TeXLive 2005. Sangat berbeda nuansanya menginstal \LaTeX di Windows yang tinggal klik sana sini dibandingkan dengan proses instalasi di Linux yang serba command line. Lihat tampilan ketika proses instalasi dimulai.

latexubuntu1

Jauh berbeda dengan tampilan proses instalasi \LaTeX di Windows seperti sudah pernah saya muat di sini. Cara instalasi TeXLive 2005 di Linux adalah dengan command seperti berikut ini :

  • mount -t iso9660 /dev/cdrom /mnt/cdrom
  • cd /mnt/cdrom
  • sh install-tl.sh

Ketika ketiga perintah di atas dijalankan, command-command yang akan muncul adalah seperti pada Gambar di atas. Untuk menggunakan setting defaultnya dan langsung menjalankan proses instalasi, ketik I dan ‘Enter’. Proses instalasi berlangsung, saya pun tidur…ha..ha..ha.. 😀 (maklum sudah lewat jam 4 pagi ). Bangun jam 10 pagi, proses instalasi sudah selesai seperti ini tampilannya :

latexubuntu2

Tinggal mengatur profile di bash supaya bisa menggunakan \LaTeX dengan mudah (diketik latex muncul latex, diketik pdflatex muncul pdflatex…dsb).

DVD Di Ubuntu

Untuk memutar DVD di Ubuntu ada aplikasi Totem Media Player. Sayang default instalasi Ubuntu 5.10 yang saya pakai belum menyertakan codec untuk format DVD. Setelah tadi sukses menginstal codec untuk MP3, tadi saya mencoba-coba instalasi codec untuk DVD.

Membaca-baca forum Ubuntu Indonesia ada thread yang membahas soal ini. Saya kemudian mengikuti saran dari mesingiling saya mulai ikuti langkah-langkahnya. (Ternyata semua informasi tersebut dapat juga didapat di http://easylinux.info/wiki/Ubuntu; maklum pemula belum tahu banyak 😀 ).

Dari 11 langkah yang disarankan saya hanya bisa menjalankan 6 di antaranya, yaitu :

  1. sudo apt-get install gstreamer0.8-plugins
  2. sudo apt-get install gstreamer0.8-ffmpeg
  3. sudo apt-get install sox
  4. sudo apt-get install ffmpeg
  5. sudo apt-get install vorbis-tools
  6. gst-register-0.8

Langkah yang lain tidak bisa dijalankan. Tapi keenam langkah di atas pun membutuhkan adanya koneksi internet, karena harus mengambil package dari servernya Ubuntu. Setelah menjalankan 6 langkah di atas, saya mencoba memasukan sebuah DVD film (saya ambil DVD favorit saya…serial Friends..he..he..) ke dalam drive dan sekarang Totem langsung otomatis bekerja. Jendela Totem terbuka dan film langsung mulai.

Sayang kenapa ya gambarnya tidak sejernih ketika saya nonton di Windows ya? Ya segitu dulu belajarnya, sudah jam 4 pagi rupanya. Boros juga belajar Ubuntu, download terus.

Update 2 Mei 2007

Saya hari ini mencoba instal Xine sebagai alternatif Totem Movie Player. Cukup mudah instalasinya, perintahnya seperti ini :

$ apt-get install xine-ui
$ aptitude install gxine

Lagi-lagi butuh koneksi internet untuk download sourcenya. Apakah semua Linux turunan Debian begini ya? Supaya player bisa mengenali format-format video yang dikenal di lingkungan Windows, saya instal w32codecs. Ambil sourcenya di sini ; setelah download diinstal dengan perintah :

$ sudo dpkg -i w32codecs_20061022-0.0_i386.deb

Akhirnya Ubuntu Saya Menyanyi

Akhirnya malam ini Ubuntu saya bisa “menyanyi” 😀 . Setelah menginstal XMMS (WinAmp-nya Linux), Ubuntu saya sekarang bisa menjalankan file MP3. Terima kasih Aseppudin yang sudah berbagi tutorial menginstal XMMS di Ubuntu. Lihat gambar XMMS di Ubuntu saya ini :

xmms

Pertama saya mendownload package yang disarankan oleh Aseppudin yaitu :

  • libglib1.2_1.2.10-10.1build1_i386.deb
  • libgtk1.2-common_1.2.10-18_all.deb
  • libgtk1.2_1.2.10-18_i386.deb
  • xmms_1.2.10+cvs20050809-4ubuntu5_i386.deb
  • xmms-skins_0.6-1_all.deb

Lalu saya instal package tersebut satu persatu lewat terminal. Perintah untuk menginstal tiap paket adalah :

sudo dpkg -i

Sayangnya ketika menginstal xmms_1.2.10 muncul error, saya baca sepintas ada error tentang depedency package dengan libssl0.9.8. Malas mencari tahu saya jalankan saja Synaptic Package Manager, tinggal klik-klik saja biarkan Synaptic yang bekerja 😀 .

Synaptic mencari package yang dibutuhkan untuk menginstal XMMS lalu mendownloadnya dari internet (kebetulan komputer saya terhubung ke internet), tidak lama kemudian XMMS pun siap dipakai. Menjadi agak bodoh memang ketika saya menyerahkan urusan instal menginstal kepada Synaptic Package Manager ini. Tapi saya senang akhirnya bisa juga Ubuntu saya dipakai untuk mendengarkan MP3 😀 . Sekarang tinggal mencari tahu bagaimana cara memutar DVD di Ubuntu. Tadi saya sudah mencoba Totem untuk menjalankan DVD, tapi gagal karena belum ada codecnya.

Bagi-Bagi Ubuntu

Ubuntu Linux rupanya masih memiliki program bagi-bagi CD gratis. Anda bisa ikut juga meminta CD gratis Ubuntu 7.04 (Feisty Fawn) ini di website https://shipit.ubuntu.com

shipitubuntu

Tadi malam saya ikut lagi program ini, lumayan kalau sampai dapat CD gratis 😀 . Kalau dulu pertama kali ada program ini, Ubuntu memberi kebebasan pesertanya untuk meminta CD dalam jumlah banyak (dulu bisa minta sampai 20 CD) sekarang tidak demikian. Pemberian CD gratis sekarang dibatasi jumlahnya, (paket 3 CD Ubuntu – bisa tiga CD untuk PC 32 bit, atau 2 CD 32 bit plus 1 CD 64 bit). Hal ini rupanya dilakukan karena semakin banyak orang yang meminta CD gratis ini.