Ikan Bakar Di Karawang

Siang ini saya beberapa rekan kantor pergi ke kawasan industri Karawang, tepatnya ke Toyota. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan di sana. Sekitar pukul 1 kami berlima pergi keluar untuk makan siang. Maklum di dalam kawasan indsutri ini sulit sekali mencari rumah makan; jadi kami harus keluar dari kawasan industri ini. Akhirnya kami makan di Restroran & Pemancingan MANG AJO. Letaknya beberapa ratus meter dari pintu tol Karawang Barat. Kami memilih makan di tempat ini karena sudah bosan makan di restoran Padang. Padahal begitu banyak restoran Padang yang kami jumpai.Restoran Mang Ajo ini dikelilingi oleh beberapa petak kolam pemancingan yang cukup luas.

Kami memesan ikan gurame bakar dan cah kangkung. Awalnya kami memesan ikan yang berukuran besar. Di menu makanan disediakan pilihan ukuran ikan; kecil, sedang, besar. Ketika pesanan datang, kami cukup kaget melihat ukuran ikan gurame yang tidak bisa dikatakan besar. Akhirnya kami terpaksa memesan saja. Ketika kami konfirmasi mengapa ikannya hanya berukuran pas-pasan, si pelayan mengatakan bahwa itu memang ikan ukuran sedang bukan ukuran besar seperti yang kami pesan. Dia menyajikan ikan berukuran sedang karena ikan berukuran besar habis. Walah, saya kesal sekali mendengarnya. Kesal karena mereka tidak memberitahu terlebih dulu kalau tidak ada stok ikan besar. Kalau diberitahu dari awal, kami pasti akan langsung memesan 2 ikan berukuran sedang. Karena kekurangperhatian pelayan tadi, kami terpaksa menunda menyelesaikan makan karena ikannya sudah habis dulu sebelum nasi habis. Ikan tambahan datangnya lama sekali. Lengkap sudah kekesalan saya.

Rasa ikan bakar di sini menurut saya kurang enak. Standar saja rasanya. Saya termasuk orang yang bersemangat untuk memberitakan kepada siapa saja tentang makanan enak. Begitu pula sebaliknya, saya jadi semangat untuk memberitahu semua orang tempat makan mana saja yang menurut saya tidak enak (tidak layak direkomendasikan). Oleh karenanya saya tulis postingan ini, restoran tempat kami makan siang tadi tidak masuk dalam daftar makanan yang bisa saya rekomendasikan.

Ngemil Kacang Mede

kacang medeBeberapa hari ini saya jadi sering makan kacang mede (atau mete?). Seorang rekan memberikan setoples kacang mede goreng. Renyah dan gurih sekali rasanya.

Sejak kecil saya memang suka sekali makan kacang mede. Kacang mede goreng cukup mahal harganya. Biasanya selain makan kacang mede goreng, saya makan kacang mede yang ada di dalam coklat. Beberapa merek coklat seperti Silver Queen atau Cadbury punya varian yang diberi isi kacang mede. Eh sory kalau Silver Queen sepertinya semua variannya mengandung kacang mede kan?

Kacang mede, dalam bahasa Inggris dikenal sebagai “Cashew” berasal dari tanaman jambu mede, atau kadang disebut jambu monyet. Menurut Wikipedia, nama Latin tanaman ini adalah Anacardium occidentale. Tanaman ini katanya merupakan tanaman asli Brasil bagian utara di Amerika Selatan. Jambu mede adalah tanaman yang dapat tumbuh subur di daerah beriklim tropis. Jambu mede sendiri adalah pseudofruit (bukan buah sebenarnya dari pohon cashew), nah yang merupakan buah dari tanaman ini ya kacang mede itu sendiri. Kacang mede tumbuh di bagian bawah jambu mede, berbentuk seperti ginjal dan dilapisi kulit yang cukup keras.

Ngemil kacang mede rasanya tidak mau berhenti πŸ˜€ . Apalagi sekarang kacang medenya pemberian orang lain, jadi terasa lebih enak karena tidak perlu membayar mahal untuk menikmatinya…ha..ha..ha… πŸ˜€ Banyak yang bilang, terlalu banyak makan kacang bisa membuat gendut, hah…untuk hal ini saya memilih untuk tidak percaya πŸ™‚ (habis enak sih).

Bebek Goreng Borromeus

Gara-gara melihat Bondan Winarno makan bebek goreng di acara Wisata Kuliner Trans TV pagi ini, saya jadi ingin menulis tentang bebek goreng. Saya memang suka makan bebek goreng. Ada 1 tempat penjual bebek goreng yang sangat enak di Bandung. Di Jakarta sekarang saya malah belum pernah menemukan tempat yang menjual bebek yang enaknya sama dengan yang di Bandung.

Di Bandung, tempat makan bebek goreng yang paling enak yang pernah saya coba adalah di Jalan Hassanudin. Tidak tahu jalan Hassanudin? Itu loh jalan di samping Rumah Sakit Borromeus Bandung, di jalan Dago (Ir.H.Juanda). Di jalan itu, kalau malam ada penjual bebek goreng. Sebenarnya bukan hanya bebek goreng yang dijual. Di sana sama seperti penjual makanan Jawa Timuran yang juga menjual lele goreng, dll. Tempat ini dikenal sebagai Bebek Borromeus. Letaknya tepat di samping Rumah Sakit Borromeus. Tidak jauh dari pintu samping ruang gawat darurat salah satu rumah sakit terbesar di Bandung. Sudah satu tahun saya tidak pergi makan bebek di sana. Entah masih ada atau tidak.

Tinggal sekitar 5 tahun di Bandung, hanya bebek Borromeus ini yang paling enak di kota Bandung. Daging bebeknya empuk sekali, saking empuknya dagingnya sudah gampang sekali lepas dari tulangnya. Tidak sama seperti penjual bebek goreng yang sering kita temui, kadang daging di tempat-tempat tersebut daging bebek terlalu kenyal dan sulit lepas dari tulangnya. Saya tidak tahu mengapa bebek Borromeus begitu empuk, kemungkinan besar bebeknya dimasak terlebih dulu dalam panci presto.

Bebek Borromeus sangat ramai dikunjungi orang. Tiap hari penjual bebek ini efektif buka pukul 6 sore. Antrian panjang bukan hal yang aneh di tempat ini. Jangan kaget kalau Anda “dipaksa” menunggu lebih dari 15 menit ketika memesan bebek gorengnya. Makanan enak memang selalu dicari dan dinanti. Buktinya walaupun antrian yang panjang tidak menyurutkan minat orang-orang mencoba makan bebek di sana. Paling enak kalau kita datang ketika penjualnya baru buka, masih sepi dan antriannya tidak terlalu panjang.

Harga yang ditawarkan pun tidak jauh berbeda dengan penjual bebek goreng tepi jalan yang sering kita temui. Terakhir saya beli bebek di sana, harganya Rp8000,- …murah kan? Nah kalau Anda suka makan bebek goreng, tempat ini sangat saya rekomendasikan untuk dicoba.

Garut – Swiss Van Java

Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, saya menonton tayangan di Trans TV. Reportase Pagi kalau tidak salah judulnya, kali ini membahas tentang berbagai hal yang menarik dari kota Garut. Kota Garut adalah sebuah kota kecil yang berada di selatan Bandung, ibukota provinsi Jawa Barat. Garut berada pada dataran tinggi sehingga suhunya sejuk bahkan jauh lebih dingin daripada Bandung. Sekitar satu jam perjalanan dari Bandung, kita sudah bisa mencapai kota Garut.

Yang menarik dari tayangan Reportase Pagi ini adalah Garut disebut sebagai Swiss Van Java. Wah ini baru pertama kali saya dengar. Selama ini saya hanya tahu Bandung dikenal sebagai Paris Van Java (dalam bahasa Belanda ditulis sebagai Parijs Van Java); alias kota Parisnya pulau Jawa. Sebutan ini sudah pasti merupakan warisan Belanda ketika menduduki pulau Jawa, khususnya kota Bandung. Rupanya Garut juga memiliki sebutan yang serupa, Swiss Van Java. Mungkin karena daerahnya yang dingin dan berada di dataran tinggi pegunungan, orang Belanda dulu menyebut Garut sebagai miniatur Swiss di pulau Jawa.

Garut memang enak untuk dijadikan tempat tujuan wisata. Gara-gara melihat TV tadi saya jadi ingat pengalaman saya berkunjung ke Garut tahun lalu. Tahun 2006 lalu sekitar bulan September saya sempat pergi ke Garut untuk urusan kantor. Hotel tempat saya menginap dilengkapi dengan fasilitas kolam air panas di dalam kamar. Air panas yang berasal langsung dari perut bumi. Di Garut memang banyak sumber mata air panas. Panasnya bukan hangat, tapi benar-benar panas. Berendam di dalam kolam tersebut lumayan membuat rileks tubuh. Keluar kamar hotel, saya bisa menyaksikan hamparan rumput yang hijau, mendengarkan gemericik air di kolam-kolam ikan, dari hotel tempat saya menginap saya bisa menyaksikan panorama Gunung Papandayan. Udara di Garut benar-benar segar, cocok sekali untuk orang seperti saya yang lebih menyukai wisata gunung daripada wisata pantai πŸ˜€ .

Oh ya, makanan apa yang paling khas dari Garut? Dodol..ha..ha..ha..dodol memang identik dengan Garut. Saya pun sempat membeli dodol sebagai oleh-oleh. Tapi makanan khas Sunda di Garut juga enak, salah satunya adalah Rumah Makan Sambal Cibiuk. Rumah makan ini sepintas sama dengan rumah makan Sunda pada umumnya. Yang paling khas dari RM Sambal Cibiuk ini adalah sambalnya yang pedas bukan kepalang. Menu lain sih sama seperti di rumah makan Sunda, ayam goreng, ikan gurami goreng, karedok, lalapan. Anda yang doyan pedas, patut mencoba makan di sini. Ada menu yang diberi nama “sambal ceurik“; ceurik dalam bahasa Sunda artinya menangis. Ini adalah gambaran bagaimana pedasnya sambal tersebut. Sambal ceurik dibuat dari campuran cabai hijau, tomat hijau, dan beberapa bumbu lain. Karena rumah makan ini terkenal akan sambalnya, di dalam menu disediakan beberapa menu pilihan sambal. Mulai dari sambal yang standar sampai yang pedasnya bukan kepalang seperti sambal ceurik tadi. Nikmat sekali makan sambil lesehan, dengan nasi panas, sambal, lauk pauk khas Sunda, dengan udara yang sejuk, diiiringin dengan irama kecapi suling Sunda…he..he..he..

Aneka Menu Sarapan

Menu sarapan pagi yang paling mudah dijumpai di Jakarta adalah nasi uduk. Setidaknya itu yang saya rasakan selama hampir 1 tahun tinggal di Jakarta. Nasi uduk adalah nasi yang dimasak dengan campuran santan sehingga nasinya saja sudah gurih. Lauk yang ditawarkan umumnya tempe goreng, bakwan, semur telur, tahu, atau semur tempe. Rata-rata pedagang nasi uduk di Jakarta menyediakan sambal kacang dan kerupuk sebagai pelengkap makanan. Di dekat tempat tinggal saya di bilangan Tomang, setidaknya ada 3 penjual nasi uduk yang saya pernah coba. Dulu ketika saya kerja di daerah Pintu Air, saya sering membeli nasi uduk yang dijual di depan stasiun Juanda (biasanya titip office boy).

Di Bandung lain lagi, paling banyak dijumpai adalah penjual bubur ayam dan nasi kuning. Nasi kuning itu mirip dengan nasi uduk, sama-sama dimasak dengan campuran santan. Hanya bedanya, nasi kuning diberi tambahan kunyit sehingga warnanya menjadi kuning. Biasanya disajikan dengan irisan telur dadar, abon sapi, soun (semacam bihun tapi yang dibuat dari tepung aci), sambal oncom, dan kerupuk. Tapi Bandung lebih terkenal bubur ayamnya daripada nasi kuningnya. Bubur ayam di Bandung itu tanpa kuah. Bubur disajikan dengan cakwe (roti goreng yang panjang, terbuat dari terigu), irisan daging ayam (ada juga ati atau ampela ayam), dan kerupuk. Oh ya, yang tidak pernah absen dari bubur ayam Bandung adalah kecap manis. Surabi (atau serabi ya yang benar?) juga salah satu makanan yang umum dimakan saat sarapan pagi di Bandung. Ini agak susah mendeskripsikannya πŸ˜€ ; surabi itu semacam kue dari terigu yang dicetak bundar. Adonan surabi (agak cair) di panaskan pada semacam tungku kecil (terbuat dari tanah liat) yang dipanaskan dengan menggunakan kayu bakar. Surabi rasanya gurih
Di Cirebon kampung halaman saya (sebuah kota kecil di pantai utara Jawa; perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah), nasi Jamblang dan nasi lengko merupakan menu sarapan pagi yang murah meriah dan terasa nendang di perut πŸ˜€ . Nasi Jamblang adalah nasi putih yang dibungkus dengan daun jati. Disajikan dengan menu yang bermacam-macam : tempe tahu goreng, tahu sayur (berkuah), sambal goreng, ikan asin, telur dadar, paru sapi, sate kentang, perkedel, dan macam-macam lauk lainnya. Sementara nasi lengko adalah nasi putih yang disajikan dengan tambahan irisan tempe dan tahu goreng, kecambah (toge), daun bawang. Semuanya dicampur di atas nasi putih lalu diberi sambal kacang dan disiram kecap. Nasi lengko enaknya dimakan dengan kerupuk putih. Selain itu memang ada juga yang pedagang yang menjual nasi kuning seperti di Bandung. Cuma bedanya, nasi kuning di Cirebon tidak disajikan dengan sambal oncom tapi dengan sambal goreng biasa.

Di Semarang, setahu saya yang paling banyak dijual orang untuk sarapan pagi adalah nasi ayam. Nasi ayam yang disajikan bukan dengan piring tapi dengan daun pisang. Nasi ayam sendiri sebenarnya nasi putih yang disajikan dengan semacam opor ayam (kuahnya putih). Sepintas agak mirip dengan gudeg Yogya.

Nah apa yang Anda makan ketika sarapan pagi?

(Saya menulis ini sambil sarapan nasi uduk di kantor πŸ˜€ )

Biliar di Mal Artha Gading

Tadi siang saya makan siang bersama beberapa rekan kantor di Mal Artha Gading (MAG) Jakarta. Makan siang di foodcourt-nya. Saya pernah beberapa kali ke MAG tapi belum pernah lihat ada 2 meja biliar di tengah-tengah foodcourt. Ketika memesan makan saya bertanya kepada Mbak penjaga counter makanan di mana smoking area. “Itu pak di dekat meja biliar”, jawab si pegawai. Iseng saya bertanya bagaimana caranya untuk main di meja tersebut. Si Mbak menjawab bahwa untuk pembelian makan di counter manapun, asalkan pembelian di atas Rp20.000,- memperoleh kesempatan main biliar gratis selama 15 menit. Asik sekali pikir saya.

Langsung saja saya pesan makan (pesan ayam goreng presto) dan setelah membayar saya main dulu biliar 15 menit. Meja biliarnya bagus, merek Murrey dengan kain lakenΒ  merek Ivan Simonis….lumayan licin lakennya. Sayangnya cue-nya (stik biliarnya) standar sekali. Sebenarnya saya main lebih dari 15 menit tapi tidak diberitahu apapun. Setelah makanan datang pun saya masih main. Selesai makan, si Mbak tadi datang lagi menanyakan apakah saya masih ingin main biliar lagi. Wah lagi…enak kan? Padahal saya hanya dijatah main biliar 15 menit, kok baik sekali ya masih ditawari main lagi. Oh ya ayam gorengnya lumayan enak. Empuk, lunak pula tulangnya

Lain kali kalau mau makan di MAG lagi saya harus bawa teman dan bawa stik sendiri..ha..ha..ha… πŸ˜€ Bawa teman supaya mainnya jadi lama (15 menit x banyak teman) dan mainnya juga jadi enak karena bawa cue sendiri. πŸ˜€ (dasar mental gratisan ya…eh gak juga – kan saya bayar makanannya)

Sate Kambing Di Denpasar

Di Denpasar saya mencoba makan sate kambing. Kurang tepat memang jauh-jauh ke Bali makan sate asal Jawa πŸ˜€ (sate dari Solo kalau tidak salah). Dua tempat penjual sate kambing yang saya coba. Kedua tempat menyajikan sate dengan penyajian yang berbeda.

Pertama di jalan Gatot Subroto Denpasar, tepat di samping Hero Swalayan. Yang ini sate kambing dari Solo. Sate kambing muda katanya, entah seberapa muda kambingnya πŸ™‚ Disajikan dengan kecap manis, irisan kol, tomat, cabe, dan ditaburi bubuk kacang tanah goreng. Memang rasa dagingnya manis dan cukup empuk. Tidak mahal, ada 2 pilihan : 1 porsi isi 6 tusuk Rp10000,- dan 10 tusuk dengan harga Rp15000,-. Sayang saya tidak tahu kalau sate di sini diberi bubuk kacang. Saya kurang suka dengan bubuk kacang ini. Rasanya yang manis menutup rasa kambingnya.

Tempat kedua yang saya coba ada di jalan Kali Asem Denpasar, samping kantor Telkom. Di sini penyajiannya sedikit berbeda, sate disajikan dengan bumbu kacang yang kental sekali. Agak aneh memang rasanya, ada sedikit rasa petis di dalam bumbu kacangnya. Saya juga mencoba gule kambingnya. Hanya saja rasa gulenya kurang enak, terlalu berlemak. Daging kambingnya saya akui empuk. Sayang saya tidak ingat harga per porsi sate kambingnya, karena saya bayar total sudah termasuk pesan yang lain-lain. Kalau tidak salah Rp10000,-. Oh ya, di tempat ini sate kambing dicampur juga dengan hati kambing (opsional).

Di antara 2 tempat tersebut, yang paling sesuai dengan selera saya adalah yang pertama. Dengan catatan, jangan diberi bubuk kacang lagi πŸ˜€

Makan Di Bandung

Dua hari ini saya sedang berada di Bandung. Belum sempat update blog selama dua hari ini, sekarang ada kesempatan saya menulis sebuah postingan.

Selasa 13 Maret 2007 lalu, saya berangkat ke Bandung untuk urusan kantor. Ada pekerjaan memasang kabel fiber optic di kantor Telkom Lembong, Bandung. Fiber optic yang dipasang akan digunakan sebagai trunk frame relay. Trunk yang dibuat akan menghubungkan perangkat frame relay yang ada di Bandung ke perangkat frame relay di Jakarta. Sebenarnya sudah ada trunk antara perangkat frame relay Bandung dan Jakarta. Kali ini akan dibuat sebuah trunk yang melewati MPLS network yang dimiliki Telkom. Untuk melewatkan data frame relay melalui network MPLS, perangkat frame relay akan disambungkan ke router Cisco terlebih dulu.

Di Bandung saya menyempatkan diri makan di tempat-tempat makan favorit saya dulu semasa kuliah. Ada 3 tempat makanan yang kemarin saya datangi bersama teman saya. Tempat makan yang saya rekomendasikan untuk Anda semua.

Yang pertama sate kambing Pak Gino di Jalan Sunda Bandung. Tempatnya tepat berada di samping rel kereta yang melintasi Jalan Sunda. Kalau Anda dari arah Jalan Veteran, sate kambing ini berada di sisi kanan jalan. Sate kambing Pak Gino ini terkenal dengan penyajiannya yang menggunakan hot plate. Sate disajikan di sebuah pinggan batu yang panas, mirip seperti yang biasa digunakan untuk menyajikan steak. Harga seporsi (10 tusuk) sate kambing sekitar Rp18000,- sangat cocok dengan rasanya. Daging empuk, manis kecapnya patut dicoba oleh Anda yang gemar sate kambing.

Tempat yang kedua adalah mie baso Veteran. Tempatnya di Jalan Veteran atau dulu dikenal dengan nama Jalan Bungsu. Tempatnya persis di samping outlet Eduard Forrier. Mungkin sepintas tampilan tempatnya yang tidak terlalu luas membuat orang menyangsikan kualitas makanan di sini. Tapi jangan salah, walaupun tempatnya tidak terlalu luas rasanya boleh dicoba. Mie baso ini menurut saya punya rasa yang khas. Dilengkapi dengan pangsit goreng, kerupuk kulit sapi (orang Sunda menyebutnya dorogdok), baso sapi, jeroan sapi. Seporti mie baso komplit harganya cuma Rp10000,- Jangan lupa kalau Anda mampir ke tempat itu, pesan juga es jeruk. Es jeruk di tempat ini juga mantap. Harganya yang cukup mahal sekitar Rp7000,- sangat pas dengan kualitas rasanya, jeruknya asli sekali. Mungkin cukup asam rasanya karena dibuat dari banyak jeruk asli.

Tempat yang ketiga adalah Sadewa Steak, yang terletak di Jalan Sadewa. Jalan Sadewa tidak jauh dari Bandara Husein Sastranegara. Harganya cukup bersaing (alias murah πŸ™‚ ). Murah tapi enak. Yang saya rekomendasikan untuk Anda coba adalah tenderloin steak, black pepper steak, dan beef cordon blue (semoga tidak salah tulis). Harganya sekitar Rp18000,-. Dengan harga sebesar itu kita bisa makan kenyang steak skala warung. Jauh lebih enak daripada Waroeng Steak yang katanya franchise dari Yogyakarta (murah dan tidak enak 😦 ).


Technorati : , , , ,

Powered by Zoundry

Indomie Telur + Kornet

Anda tinggal di sekitar Grogol atau Tomang Jakarta Barat? Anda suka Indomie? Saya pikir Anda perlu mencoba makan Indomie di warung Abang Adek di Jalan Mandala Utara.

Tempat ini menjual “internet” (indomie telur pake kornet πŸ˜† ), aneka jus buah, roti bakar, susu sapi, kopi, pisang bakar, kadang juga ada jagung bakar. Tapi yang paling dikenal dari warung Abang Adek; atau lebih sering dikenal warungnya si MUS (owner warung Abang Adek namanya MUS) ; adalah Indomienya yang pedas bukan main. Cabe yang dipakai adalah cabe rawit merah, terbayang kan pedasnya? Orang yang datang ke warung si MUS tidak sekadar mencari “internet” tapi mencari pedasnya Indomie, plus kornet, plus telur goreng mata sapi. Jus di warung ini sangat fresh, aneka buah ada di sini mulai dari jeruk, tomat, jambu, sirsak, alpukat, mangga, melon, wortel, dll. Jusnya dipatok di kisaran harga Rp3000.- sampai Rp4000,-; seporsi internet sekitar Rp5000,-.

Tadi malam saya kembali lagi makan di warungnya si Mus. Sudah cukup lama saya tidak pergi makan ke warung Abang Adek. Seporsi “internet” plus jus jambu, wah nikmat sekali. Saya kenal warung Abang Adek sekitar tahun 2001. Hebatnya, warung ini bertahan dengan sekian banyak pelanggan setianya. Setiap hari warung ini dapat berjualan dari sekitar jam 4 sore sampai jam 3 pagi. Jangan salah, sampai jam 3 pagi pun cukup banyak pengunjung yang datang. Katanya sih, warung ini sudah beroperasi dari akhir tahun 90an. Untuk ukuran usaha skala kecil, warung ini layak diacungi jempol.

Silakan mencoba makan di warung Abang Adek ini; jangan lupa juga share pengalaman makan di sana pada saya πŸ˜€ .


Technorati : , , , ,

Powered by Zoundry

Iga Sapi Bakar

Sabtu malam tadi saya makan di daerah Kelapa Gading; tepatnya di jalan Boulevard Kelapa Gading. Saya makan konro bakar (iga sapi bakar); nama rumah makannya Rumah Makan MARANNU. Tempat ini cukup dapat dijadikan referensi makan bagi Anda yang gemar makan enak.

Seporsi konro bakar harganya sekitar Rp25000,-; isinya 2 tulang iga sapi — [tentu saja banyak dagingnya πŸ˜€ ]. Harga yang cukup worthed untuk rasa yang enak dan porsi yang cukup membuat perut kenyang.

Selain iga sapi bakar di rumah makan itu juga menyediakan menu coto Makasar (masakan iga sapi dengan kuah), ikan bakar, es pallu butung, dll. Sudah lama saya berlangganan di rumah makan ini, tapi sayangnya saya tidak pernah tertarik mencoba menu-menu lain selain konro bakar.

Ada yang mau berbagi cerita tentang tempat-tempat makan yang enak di Jakarta?


Technorati : , ,

Powered by Zoundry