Kristalisasi Keringat Tukul Arwana

Malam ini saya menyempatkan diri mampir ke Gramedia yang ada di jalan Gatot Soebroto Denpasar. Di Gramedia yang belum lama dibuka ini, saya membeli bukunya Tukul Arwana. Judulnya cukup panjang :

Kisah Sukses Dengan Kristalisasi Keringat Tukul “Katro” Arwana – The Face Country and The Money City.

Fisik buku ini menarik. Dicetak pada kertas glossy yang cukup tebal, cukup eksklusif. Isinya sepintas saya baca juga menarik. Dilengkapi banyak foto dan gambar, cerita perjalanan karir Tukul menjadi menarik untuk disimak. Jargon-jargon yang sering dilontarkan Tukul dalam acara Empat Mata di Trans7 juga banyak dibahas di dalam buku ini. Ulasan lebih dalam dari bukunya Tukul ini akan saya muat di blog ini setelah saya selesai membaca buku ini.

Buku seharga Rp47000,- ini saya beli cuma dengan membayar Rp39900,- Gramedia di Nikita Plasa ini sedang mengadakan diskon 15% menandai pembukaan toko. Lumayan..he..he..he…Diskon tidak seberapa tapi ada kepuasan tersendiri memperolehnya 😀

Advertisements

Menamatkan Novel Gajah Mada Kedua

Kamis sore lalu saya pulang dari Pekanbaru ke Jakarta. Perjalanan pulang kali ini memberi saya kesempatan menyelesaikan membaca buku novel kedua Gajah Mada Bergelut Dalam Tahta & Angkara. Tepat beberapa menit sebelum mendarat di Soekarno Hatta, buku setebal 508 halaman itu selesai saya baca. Membaca dalam perjalanan adalah kebiasaan saya selama ini, rasanya lebih konsen memahami jalan cerita.

Seperti yang sepintas telah saya bahas di postingan saya sebelumnya, cerita berkembang di seputar rencana perebutan tahta di kerajaan Majapahit sepeninggal Jayanegara. Jayanegara memiliki 2 orang adik perempuan, Gayatri dan Dyah Wiyat. Keduanya dicalonkan menjadi ratu menggantikan Jayanegara yang tewas dibunuh dengan racun oleh Rakrian Tanca. Ra Tanca sendiri tewas dibunuh Patih Gajah Mada. Masing-masing putri sudah dinikahkan dengan bangsawan dari Singasari, Gayatri dinikahkan dengan Raden Cakradara sementara Dyah Wiyat dinikahkan dengan Raden Kudamerta.

Tiga pihak yang merencanakan makar adalah paman kandung Raden Cakradara, pihak di belakang Raden Kudamerta, dan terakhir yang paling mengejutkan adalah terlibatnya istri Ra Tanca yang menghimpun kekuatan untuk makar. Raden Cakradara dan Kudamerta sendiri seolah menjadi “boneka” bagi pihak-pihak di belakangnya yang ingin mencicipi singgasana Majapahit.

Konflik lain yang tak kalah menarik adalah fakta bahwa Raden Kudamerta sudah pernah memiliki istri. Konflik terjadi karena Kudamerta dianggap menyepelekan putri keraton dengan menikahinya sementara Kudamerta pernah beristri. Masih seperti di buku pertama, Gajah Mada dan pasukan Bhayangkara lagi-lagi sukses mengamankan Majapahit dari rencana-rencana perebutan tahta.

Saatnya mulai menyelesaikan membaca buku ketiga Gajah Mada : Hamukti Palapa. 😀

Buku Kedua Novel Gajah Mada

Kamis lalu saya pergi ke Gramedia Pasar Baru Jakarta. Ketika melihat-lihat buku, saya mampir melihat tumpukan novel Gajah Mada. Melihat-lihat seri yang belum saya punya, seri “Bergelut dalam Tahta & Angkara” dan seri “Perang Bubat”. Ketika melihat-lihat cover belakang seri “Bergelut dalam Tahta & Angkara” saya sedikit terkejut. Rupanya novel Gajah Mada seri yang satu ini merupakan buku kedua dari rangkaian novel Gajah Mada karangan Langit Kresna Hariadi itu.

Yang membuat saya terkejut adalah saya terlanjur membeli buku Gajah Mada seri “Hamukti Palapa” yang ternyata buku ketiga. Ada sedikit rasa menyesal mengapa salah membeli buku, salah urutannya. Memang masing-masing buku tersebut dapat berdiri sendiri-sendiri alur ceritanya, tapi tetap saja saya merasa kurang sreg membaca buku tidak urut. Buku “Hamukti Palapa” saya sudah baca setengah isinya. Agak lucu bagi saya membaca buku pertama Gajah Mada lalu membaca buku ketiganya dulu sebelum membaca seri keduanya.

Sebenarnya dulu sewaktu saya membeli buku “Hamukti Palapa” di Gramedia Pekanbaru, saya sudah menanyakan pada pegawai Gramedia bagaimana urut-urutan buku tersebut. Pegawai Gramedia mengatakan buku “Hamukti Palapa” adalah buku kedua. Wah…terlanjur salah mengikuti info yang salah. Jadi sekarang terpaksa saya tunda baca buku ketiga tersebut dan membaca buku kedua yang saya beli (“Bergelut dalam Tahta & Angkara”).

Kali ini novel Gajah Mada seri “Bergelut dalam Tahta & Angkara” bertutur tentang bagaimana perebutan kekuasaan di kerajaan Majapahit setelah Sang Prabu Jayanegara wafat dibunuh tabibnya sendiri. Kekosongan singgasana membuat banyak intrik perebutan kekuasaan muncul, Jayanegara yang hanya memiliki 2 saudara perempuan meninggalkan masalah baru di kerajaannya. Siapa yang akan menggantikannya sebagai raja, Sri Gitarja kah atau Dyah Wiyat kah? Sebenarnya saya sudah tahu jawabnya, karena sudah keburu membaca separuh isi buku seri ketiganya yaitu “Hamukti Palapa” 😀 . Mereka berdua nantinya akan menjadi ratu kembar di Majapahit. Namun demikian, cerita di balik peralihan kekuasaan di Majapahit sepeninggal Jayanegara merupakan cerita yang layak diikuti.

Langit Kresna Hariadi masih tetap memukau saya sebagai pembaca tulisannya. Penuturannya yang bagus membuat saya bisa merasakan tiap momen menegangkan yang dilukiskannya dalam novel-novelnya tersebut. Banyak adegan menegangkan dalam cerita Gajah Mada ini. Penuturannya yang sarat konflik-konflik membuat novel-novel ini benar-benar “mengikat” saya untuk segera menyelesaikan membacanya.

Salam kenal untuk Mas Langit Kresna Hariadi. Novel Anda benar-benar menarik. :d

Novel GAJAH MADA

Akhir minggu lalu saya membaca novel berjudul GAJAH MADA. Novel karangan Langit Kresna Hariadi ini adalah sebuah epos tentang Gajah Mada, seorang mahapatih dari kerajaan Majapahit. Sebuah novel fiksi dengan latar belakang sejarah salah satu kerajaan tua yang pernah ada di pulau Jawa. Berikut adalah tampilan depan novel ini.

Kisah ini bercerita tentang pemberontakan yang terjadi di kerajaan Majapahit. Pemberontakan dilakukan oleh Rakrian Kuti melawan pemerintahan Jayanegara, raja kedua di kerajaan Majapahit. Konflik terjadi di seputar perang antara pemberontak dengan pasukan kerajaan, proses penyelamatan Jayanegara, dan proses perebutan kembali tahta kerajaan Majapahit ke tangan Jayanegara. Kisah digerakan oleh kepiawaian Langit Kresna Hariadi dalam meramu konflik-konflik yang terjadi menjadi sebuah cerita yang menegangkan dan penuh kejutan. Yang paling banyak diceritakan adalah bagaimana pasukan pimpinan Gajah Mada, dikenal dengan nama pasukan Bhayangkara, menyelamatan raja dan menyelamatkan kerajaan dari tangan pemberontak. Pasukan Bhayangkara adalah pasukan elite di Majapahit, semacam Paspampres atau Kopassus di Indonesia saat ini.

Di antara sekian kisah patriotik yang dikisahkan, ada juga terselip kisah percintaan. Tidak banyak memang kisah cinta yang ada dalam novel ini, tetapi adanya kisah cinta ini menjadi sebuah bagian penting dalam novel ini. Bagaimana salah satu pemberontak yang ternyata memendam cinta terhadap saudara Jayanegara, memang peranan penting dalam alur cerita kisah ini. Salah satu kelebihan novel ini adalah adanya kesesuaian kisah fiksi dengan sejarah. Terbukti dari banyaknya bukti sejarah yang bisa kita lihat juga dalam buku-buku sejarah yang menceritakan kerajaan-kerajaan di pulau Jawa, prasasti-prasasti yang disebut dalam novel ini juga memang ada pada nyatanya, seperti misalnya prasasti Balitung.

Bagi Anda yang menyukai kisah fiksi dengan latar belakang sejarah buku novel ini sangat layak untuk dibaca. Langit Kresna Hariadi membuat juga 3 seri novel Gajah Mada yang lain, yang saya ingat di antaranya adalah seri Gajah Mada : Hamukti Palapa, Perang Bubat, dan seri terakhirnya Tahta & Angkara. Menarik kisahnya, menegangkan, salut untuk Langit Krena Hariadi yang sanggup menghidupkan tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini. Saking senangnya dengan novel Gajah Mada saya cuma butuh waktu 2 hari untuk menghabiskan membaca buku setebal 500an halaman ini. Saya pasti akan berlanjut membeli semua seri dari tetralogi ini. Dapat dipastikan saya pasti akan berlanjut membeli semua seri dari tetralogi ini.


Technorati : , ,