Bahasa Inggrisku Dulu & Sekarang

Semasa kuliah saya selalu kuatir dengan kemampuan bahasa Inggris saya yang pas-pasan. Kemampuan percakapan saya dalam bahasa Inggris sangat parah, tidak tahu bagaimana harus berbicara dalam bahasa Inggris dengan lawan bicara. Selama kuliah hanya kemampuan membaca tulisan dalam bahasa Inggris yang berkembang. Itu juga karena terpaksa, terpaksa membaca buku kuliah yang hampir semua ditulis dalam bahasa Inggris. Ketakutan awal saya dulu adalah bagaimana nanti saya di dunia kerja. Katanya kan dunia kerja menuntut kemampuan berbahasa Inggris yang cukup. Dari dulu saya tidak pernah mengikuti kursus bahasa Inggris sih, rugi akibatnya.

Awal-awal bekerja di Jakarta kemampuan berbahasa Inggris saya pun biasa-biasa saja, karena kantor pertama saya hanya perusahaan nasional. Akibatnya, jarang sekali bahkan tidak ada kesempatan mengembangkan kemampuan percakapan Inggris saya. Nah di kantor kedua saya sekarang, mulai saya merasakan pentingnya kemampuan bercakap-cakap dengan bahasa Inggris. Bagaimana tidak, kantor saya sekarang adalah perusahaan Jepang. Banyak momen yang mengharuskan saya berkomunikasi dengan orang Jepang. Karena saya tidak bisa bahasa Jepang, mau tidak mau satu-satunya sarana komunikasi adalah dengan menggunakan bahasa Inggris. Ada satu hal yang saya rasakan meningkat dalam kemampuan ngomong Inggris saya yaitu berani ngomong…he..he..baru berani ngomong, bukan fasih berbahasa Inggris. Dengan kosakata yang pas-pasan, grammar (tata bahasa) yang acak-acakan yang penting maksud saya tersampaikan.

Kalau boleh saya sedikit berbagi, untuk berbicara menggunakan bahasa Inggris kita harus super pede πŸ˜€ . Jangan takut salah kalimat, jangan takut kehilangan kata-kata, jangan kuatir dengan grammar yang acak-acakan, yang penting ngomong dan lawan tahu maksud kita. Kalau lupa 1 atau 2 kata, ubah saja kalimatnya sehingga tidak perlu menggunakan kata yang “hilang” tadi. Seiring sejalan, benahi grammar danΒ  penggunaan kosa kata. Kalau terus-terusan takut salah grammar kapan bisa mulai belajar?

Berlatih Menuangkan Ide Ke Dalam Kalimat & Paragraf

Setelah memberi komentar balik dari komentar yang ada di sini, saya malah merasa komentar balik yang saya beri tersebut bagus untuk ditulis menjadi sebuah postingan baru. Tulisan saya sebelumnya berjudul Kekeliruan Umum Menulis Skripsi, mendapat komentar dari seseorang. Salah satu isi komentarnya adalah tentang kendala umum orang dalam menuangkan ide dan gagasan ke dalam kalimat. Hal ini menggelitik saya untuk memberi komentar balik tentang cara mudah melatih kemampuan menuangkan ide ke dalam kalimat/paragraf. Berikut ini pembahasannya seperti yang ada di komentar balik saya (tentu dengan penambahan dan koreksi isi di sana-sini).

Kendala umum yang sering dialami orang dalam bahasa tulis adalah kesulitan menuangkan ide ke dalam tulisan. Sebenarnya hal tersebut mudah dilatih dan bukan merupakan sesuatu hal yang butuh kecerdasan super. Jika Anda merasa kesulitan menuangkan ide menjadi sebuah kalimat/paragraf, coba mulailah dengan menulis kerangka karangan. Dengan kata lain, mulailah dari kata-kata pokok (keyword), ide-ide pokok. Anda tidak perlu langsung membuat kalimat dan paragraf lengkap. Tuangkan semua ide dan gagasan terlebih dulu..istilah kerennya adalah brainstorming.

Mungkin sepintas orang tidak akan mengerti ide yang Anda tuangkan karena belum berupa susunan kalimat dan paragraf yang benar. Tapi itu bukan masalah, lanjutkan dengan menambahkan kata-kata ke kata pokok/ide pokok tersebut untuk menjadikannya sebuah kalimat lengkap. Kalimat yang dibuat tidak perlu panjang-panjang. Dengan kalimat-kalimat pendek pun, Anda bisa menyusun sebuah paragraf. Yang lebih penting adalah orang mengerti ide pokok kalimat tersebut.

Keterangan-keterangan yang menyangkut ide pokok tersebut bisa Anda tuliskan dalam kalimat-kalimat berikutnya. Sama seperti kalimat pokok Anda, keterangan-keterangan pun dapat Anda buat dengan menulis kata-kata pokok yang mengandung informasi pendukung kalimat utama. Anda sebaiknya jangan bertele-tele dan berpanjang-panjang dalam menuliskan kalimat pendukung.

Dari susunan beberapa kalimat lengkap yang memiliki kesamaan ide plus beberapa kalimat keterangan/pendukung, Anda sudah bisa menyusun sebuah paragraf dengan ide yang sama. Jadi latihlah menuangkan ide terlebih dulu, menyusun kalimat dan paragraf itu mudah – lakukan belakangan. Jika Anda sudah mulai terbiasa dengan langkah-langkah di atas, selanjutnya Anda bisa langsung membuat kalimat dan paragraf tanpa perlu menuliskan kata-kata kuncinya dulu.

Lembur Di Hari Minggu

Hari Minggu ini saya malah masuk kerja alias lembur. Proyek instalasi server di Toyota Motor Manufacturing Indonesia, di Sunter Jakarta Utara. Sampai di kantor jam 8 pagi dan baru tiba di rumah kembali jam setengah 7 malam. Lelah sekali rasanya. Lelah fisik dan pikiran (diomeli bos saya – orang Jepang). Ngomel gak jelas. Parahnya bahasa Inggris bos saya. Berhubung saya sendiri tidak bisa berbahasa Jepang, komunikasi satu-satunya saya dengan bos adalah dengan bahasa Inggris. Tapi berhubung bos saya buruk Inggrisnya, kadang rancu juga pembicaraannya.

Saya tidak habis pikir mengapa orang pintar dari Jepang buruk sekali kemampuan bahasa Inggrisnya. Saya juga masih bodoh dalam bahasa Inggris tapi paling tidak saya mampu mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris dengan jelas (meskipun kadang salah eja). Sarjana di sana tidak mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris secara lancar. Bandingkan dengan di sini. Paling tidak seburuk-buruknya kemampuan berbahasa Inggris lulusan Indonesia, masih bisa lah speaking English.

Orang Jepang rupanya sulit sekali berkata-kata dalam bahasa Inggris. Entah mereka diajari bahasa Inggris apa tidak waktu sekolah dulu di Jepang. Atau karena begitu besar nasionalisme mereka sehingga mereka tidak mau belajar bahasa asing selain bahasa nasional mereka sendiri. Saya bisa mengatakan demikian karena bukan sekali saja saya mendengar tentang parahnya orang Jepang berbahasa Inggris. Teman saya pun bercerita bahwa orang Jepang sendiri pun mengakui bahwa mereka rata-rata sulit berbahasa Inggris.

Kesimpulan saya sampai saat ini : separah-parahnya orang Indonesia berbahasa Inggris, masih lebih baik daripada orang Jepang berbahasa Inggris. Orang di Indonesia yang pernah belajar bahasa Inggris, masih bisa dipahami kata apa yang diucapkannya (paling salah eja). Orang Indonesia biasanya hanya lemah dalam penguasaan vocabulary (kosa kata) Inggris. Orang Indonesia yang paham banyak kosa kata saya jamin bisa berkomunikasi dengan orang asing yang berbahasa Inggris,walaupun dengan struktur kalimat yang kacau. Cukup dengan kata-kata penting saja pun, orang asing bisa menangkap maksud pembicaraan. Bila orang Indonesia mendengar orang Australia berbicara misalnya, kadang kendalanya hanya masalah listening. Jika si bule berbicara pelan-pelan mungkin masih bisa ditangkap kata-katanya. Sampai sini paham kan maksud saya?

Hari ini saya banyak mendengar kata-kata bahasa Inggris yang diucapkan dengan logat Jepang dan pronounciation yang aneh sekali (gak ada mirip-miripnya dengan bahasa Inggris). Mengucapkan “LAN” (local area network) terdengar “trang“, “connection” terdengar “konesiong“, “saturday” terdengar “sasdei“. Pusing jadinya. Jadi karyawan paling mentok cuma bisa…sabar. 😦

(Panjang ya tulisannya, panjang dan kacau tulisan saya kali ini. Berhubung lelah, lapar, kesal…mau cerita lembur malah curhat dan membahas tentang bahasa..he..he..he.. πŸ˜€ )

Not At All

Seorang teman tadi malam bercerita tentang pengalamannya melamar kerja. Dia melamar kerja sebagai sopir pribadi kepada seorang ekspatriat. Si bule kemudian mewawancaranya. Menurut teman saya, percakapannya kurang lebih seperti ini :

Boss : "Are you know all of main street in Jakarta?"
My Friend : "Not at all, Sir."
Boss : "????" <confused>

Gara-gara menjawab seperti itu, lenyap sudah kesempatan menjadi sopir pribadi si bule. Anda tahu mengapa? Teman saya sebenarnya ingin menjelaskan kalau dia tahu jalan-jalan utama di Jakarta, hanya tidak semua jalan dia hafal. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang minim, dia langsung menjawab “not at all”. Teman saya berpikir “not at all” artinya “tidak semua” (benar kalau dibaca dan diartikan satu persatu kata-katanya πŸ˜€ ); padahal “not at all” artinya dalam konteks ini adalah “tidak tahu sama sekali”.

Si bule pasti bingung sekali dijawab seperti itu. Harusnya teman saya menjawab begini : "Little-little I can lah,Sir" <Singlish-Singapore English>…ha…ha…ha… πŸ˜€

Kekeliruan Umum Menulis Skripsi

Saya termasuk orang yang memperhatikan bagaimana sebuah dokumen formal dibuat. Banyak aspek yang saya perhatikan misalnya penggunaan kaedah Bahasa Indonesia, tipografi (pemilihan font), struktur dokumen, layout dokumen, dll. Dengan memperhatikan banyak dokumen formal saya bisa menganalisis kekeliruan yang umum dilakukan dalam menulis dokumen. Yang paling banyak saya amati adalah skripsi. Saya sering membaca-baca skripsi (dalam bentuk softcopy) milik teman-teman saya. Dari banyak skripsi yang sudah saya baca, ada beberapa kekeliruan umum yang sering terjadi dalam menulis skripsi. Beberapa kekeliruan tersebut di antaranya adalah :

  1. Penggunaan jenis font yang tidak formal. Dalam sebuah dokumen formal, jenis font yang pantas digunakan adalah jenis font berkait (misalnya Times Roman, Computer Modern). Orang sering menggunakan font lain semacam Arial dalam menulis dokumen formal. Menurut saya hal ini sangat konyol. Lebih konyol lagi kalau lembaga selevel universitas mewajibkan mahasiswanya menulis skripsi dengan Arial font.
  2. Pengaturan layout dokumen yang tidak standar. Sekadar informasi, ukuran margin standar sebuah dokumen formal adalah margin atas 4cm,
    bawah 3.5 cm, kiri 4 cm, dan kanan 2.5 cm.
  3. Penulisan kalimat yang tidak memperhatikan kaidah pembuatan sebuah kalimat (S-P-O-K….masih ingat kan pelajaran Bahasa Indonesia ketika SD? πŸ˜€ ). Kalimat tidak memiliki subjek, predikat, objek yang jelas. Mengapa hal ini penting? Struktur sebuah kalimat formal harus memperhatikan elemen-elemen penyusun kalimat yang benar. Lihat contoh berikut ini :

    Hal ini bisa saja dilakukan oleh orang dalam maupun orang luar dengan motivasi beragam. Mulai dari mencuri informasi berharga, mencuri uang, vandalisme ataupun sekadar iseng belaka.

    Lihat kalimat di atas. Kalimat kedua tidak memiliki struktur subjek predikat yang jelas. Kalimat kedua mungkin dimaksudkan untuk menjelaskan apa yang sudah ada dalam kalimat pertama. Mungkin akan lebih baik jika kalimat kedua diawali dengan :

    “….. dengan motivasi beragam. Banyak hal yang dapat menjadi motivasi orang untuk mencuri, mulai dari mencuri informasi……”

  4. Penulisan kalimat panjang-panjang. Ini yang paling sering saya jumpai. Orang terjebak dalam suatu ide pokok kalimat dan tidak mampu memecahnya menjadi beberapa kalimat pendek. Lihat contoh kalimat berikut ini :

    Media massa mempengaruhi konteks sosial, dan konteks sosial mempengaruhi media massa, terjadi hubungan transaksional antara media dan masyarakat.

    Sudah membaca kalimat di atas? Apa tanggapan Anda? Saya sendiri walalupun mengerti apa yang ingin disampaikan penulis, merasa kurang nyaman dalam membaca kalimat tersebut. Hal ini juga berkaitan erat dengan poin nomor 3, struktur kalimatnya tidak jelas. Hal ini rupanya juga terjadi dalam penulisan aturan pemerintah (undang-undang dan teman-temannya). Panjang lebar, memutar-mutar, dan tidak jelas.

  5. Membuka bab/subbab langsung dengan daftar. Adalah suatu hal yang tidak enak dilihat jika sebuah bab/subbab dimulai tanpa adalah kalimat pengantarnya. Saran saya jika sebuah subbab sebenarnya hanya berisi daftar, mulailah subbab dengan kalimat pengantar. Lihat contoh ini :

    1.2 Tujuan

    • Mendapatkan suatu metode ….
    • Mendapatkan suatu cara sistematis …

    Hal di atas sering saya lihat dalam buku skripsi. Sebuah subbab langsung berisi daftar. Lebih enak dilihat kalau di awal subbab tersebut (sebelum memulai daftar) mulailah dengan kalimat pembuka seperti misalnya :

    Beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini antara lain adalah :

  6. Membagi struktur badan dokumen dengan penomoran yang tidak standar. Saya perhatikan ada yang menulis subbab dengan penomoran menggunakan huruf. Bab 1 memiliki subbab A, B, dst. Aneh sekali. Standarnya adalah subbab 1.1 lalu 1.2 dan seterusnya.
  7. Penulisan kata bahasa asing secara tidak tepat. Kata-kata dalam bahasa asing harus dituliskan dengan dicetak miring (italic).
  8. Penggunaan kata-kata yang tidak baku, misalnya “analisa” padahal seharusnya yang baku adalah “analisis”.

Sampai saat ini hanya sebanyak itu kekeliruan yang kerap saya jumpai. Nanti saya akan tambahkan lagi bila menemui kekeliruan umum.

Memprihatinkan kalau orang Indonesia sampai salah menggunakan bahasanya sendiri. Dari SD sampai SMA, 12 tahun diberi pelajaran Bahasa Indonesia (belum lagi 1 semester di perguruan tinggi) tapi menulis skripsi masih salah. Mungkin Anda berkata, ah saya sih bukan pemerhati bahasa toh bidang studi saya lebih eksak, lebih teknikal, buat apa cape-cape membuat skripsi dengan bahasa yang baku” Kalau Anda berpikir seperti itu, bertanyalah pada diri Anda sendiri : gak malu jadi orang Indonesia, nulis aja salah-salah… πŸ˜€ “. Berbahasa itu proses berpikir loh (tulisan tentang ini nanti menyusul).

Dilema Menulis Kata Serapan

Ketika menulis sebuah artikel atau posting di blog, saya sering menghadapi kendala ketika harus menggunakan kata-kata serapan dari bahasa Inggris. Kata-kata yang sering sulit dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia adalah istilah-istilah teknologi. Misalnya :

“Kecepatan download sebuah file ditentukan oleh besarnya bandwidth yang kita peroleh dari provider internet.”

Dalam Bahasa Indonesia seharusnya saya menulis :

“Kecepatan mengunduh sebuah berkas ditentukan oleh besarnya lebar jalur yang kita peroleh dari penyedia layanan internet.”

Terasa janggal dan aneh di mata dan telinga saya ketika membaca kalimat terjemahan semacam itu. Dilema penggunaan kata-kata serapan sering sekali saya temui ketika menulis dengan menggunakan banyak istilah-istilah iptek. Anda paham kan dengan maksud saya ini? Kita yang sudah terbiasa dengan istilah dalam bahasa asing malah akan kerepotan ketika harus membaca atau menulisnya dalam Bahasa Indonesia.

Dulu ketika kuliah saya pun pernah mengalami hal yang serupa dengan buku kuliah. Kuliah Dasar Teknik Elektro saya ingat, saya sengaja mencari buku terjemahannya; maksud saya supaya mudah belajarnya πŸ˜€ . Hasilnya? Nihil, buku terjemahan tersebut malah saya rasa tidak berguna, bahkan menyulitkan saya memahami maksud penulis. Akhirnya saya kembali ke buku aslinya yang dalam bahasa Inggris. Anda yang sering membaca buku teknik dalam bahasa Inggris pasti mengalami hal yang serupa dengan yang pernah saya alami. Buku terjemahan mendistorsi maksud dan membuat kita pembacanya malah berpikir 2 kali mengartikan kata terjemahannya. Aneh, bukannya memudahkan malah membuat kita berpikir dua kali.

Sebagai orang yang belajar menggunakan Bahasa Indonesia dengan tepat, saya mencari solusi lain ketika harus menulis kata-kata serapan. Saya menulis kata aslinya dengan huruf miring/italic (nah kan bingung lagi, italic = huruf miring πŸ˜€ ) Menurut aturan EYD, memang kita boleh menulis istilah dalam bahasa asing asalkan ditulis dengan huruf miring. Tapi bayangkan sebuah buku yang banyak memuat istilah asing, seluruh buku akan dihiasi dengan kata-kata yang tercetak miring.

Bukan bermaksud sombong dengan tidak mau menulis kata dalam Bahasa Indonesia, tapi hal ini kadang membuat maksud dan inti kalimat menjadi kabur. Kaidah Bahasa Indonesia sepertinya perlu direvisi sehingga mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam memahami teknologi informasi. Akan aneh jadinya ketika seseorang tekun memahami istilah teknologi yang sudah diserap ke dalam Bahasa Indonesia tetapi menjadi tolol ketika berhadapan dengan kata aslinya; demikian pula sebaliknya. Di era informasi yang semakin terbuka luas ini sangat besar kemungkinannya kita memperoleh informasi teknologi langsung dari sumber di luar negri dengan menggunakan internet. Teknologi yang ada mungkin belum ada di Indonesia. Kalaupun sudah ada, belum ada istilah serapannya. Jadi bagaimana kita harus berbahasa?

Pilihannya ada di penulis. Tetap menggunakan kata serapannya atau menulis kata aslinya dengan dicetak miring? Keduanya sah dari segi kaidah berbahasa Indonesia.

Ada sebuah artikel (atau lebih tepatnya kamus kecil) yang pernah saya dapat dari web milik Onno W.Purbo tentang istilah IT dalam Bahasa Indonesia. Anda bisa lihat di sini. Kadang saya juga mengacu pada kaidah tersebut, tapi lebih seringnya saya menulis istilah asing dengan huruf miring.