Pergeseran Fungsi SMS

Belakangan ini di televisi banyak sekali tayangan iklan yang menawarkan layanan melalui sms (short message services). Mulai dari ramalan bintang harian, lelucon, undian, cerita kehidupan selebritis, kotbah agama, dan masih banyak varian lainnya. Tidak hanya di televisi, saya pun sering sekali mendapat iklan semacam itu melalui pesan singkat ke handphone saya. Menyebalkan. Ini mirip seperti apa yang ditulis oleh Pak Budi Rahardjo di blognya.

smsSeingat saya layanan semacam ini dulu diawali dari acara reality show semacam AFI, Indonesian Idol. Penonton diminta berpartisipasi dengan mengirimkan pesan singkat untuk mendukung salah satu kontestan acara. Tiap SMS yang dikirimkan bernilai sekitar Rp2000,- Tarif seperti itu jauh lebih mahal daripada tarif SMS reguler yang berada di kisaran Rp350,- (untuk beberapa operator tarif SMS bahkan lebih murah). Layanan pesan singkat semacam ini dikenal dengan layanan SMS premium. Biasanya dicirikan dengan nomor tujuan yang singkat, biasanya 4 digit angka.

Ada pergeseran fungsi dan pemanfaatan dari pesan layanan singkat ini. Kalau pada awal kepopulerannya layanan ini digunakan untuk komunikasi standar, sekarang beberapa pergeseran fungsi sudah terjadi. Yang paling banyak terjadi adalah pemanfaatan SMS premium ini untuk mengeruk keuntungan dari tiap SMS yang dikirimkan. Sebal sekali rasanya tiap kali ada iklan semacam itu di televisi. Dalam benak saya itu salah satu bentuk pembodohan masyarakat. Misalnya SMS harian dari selebritis, sampai sekarang saya tidak percaya kalau SMS semacam itu benar berasal dari si selebritisnya. Tapi apakah semua orang seperti saya, tidak mau gampang percaya? Yang lain adalah SMS tentang undian berhadiah. Secara tidak langsung ini membodohi masyarat. Misalnya dengan semakin banyak SMS maka kemungkinan menang semakin besar. Toh sampai sekarang kita tidak pernah tahu bagaimana kelanjutan dan transparansi dari undian semacam itu. Orang yang mengirimkan SMS tentu akan berpikir, oh saya masih belum menang. Tapi apakah dia bisa bertanya, siapa sih yang menang? Dengan menggunakan cara ini bayangkan keuntungan yang bisa diraih oleh penyelenggara layanan semacam ini. Penggunaan SMS juga sekarang populer digunakan oleh beberapa acara kuis di televisi. Kalau dulu orang perlu mengirimkan kartu pos atau fax, sekarang penonton tinggal mengirimkan SMS untuk ikut kuis.

Tidak semua acara yang menggunakan layanan ini hanya mengejar keuntungan belaka. Minggu lalu misalnya saya melihat acara Republik BBM menggunakan layanan SMS untuk mengumpulkan dana sumbangan bagi perbaikan bangunan sekolah-sekolah dasar. Tiap SMS dari pemirsa dihargai Rp5000,-. Bayangkan berapa banyak dana yang bisa terkumpul dalam sekejap. Jika seribu orang saja mengirimkan masing-masing 1 SMS, maka akan terkumpul Rp 5000000,-. Belum lagi kalau tiap orang mengirimkan lebih dari 1 SMS.

Singkatnya, teknologi pesan layanan singkat atau lebih populer SMS ini sudah berkembang dalam pemanfaatannya. Tinggal bagaimana kearifan penonton dan pengguna layanan SMS dalam menghadapi berbagai tawaran yang membanjir belakangan ini.

Ketik REG <spasi>…Kirim ke 1234….ha…ha…ha…jangan mudah diiming-diimingi deh.

8 thoughts on “Pergeseran Fungsi SMS

  1. wah, ini betul sekali, tulisan anda persis seperti apa yg saya pikirkan belakangan ini.

    ada sedikit heran di benak saya, mengapa judi dilarang sementara Undian dgn SMS seperti itu dibiarkan begitu saja, itu tidak mendidik sama sekali dan masyarakat sebenarnya telah dibodohi (bukan ditipu) dan sangat dirugikan.. sementara yg untung hanya oknum tertentu.

  2. @ ankerzone : betul, dimana-mana orang gembar-gembor berantas judi tapi undian macam gitu gak ada yang nyentuh.

    @ sahat : ya Anda betul tapi “pengembangan” itu konotasinya positif. Ada kata lain gak dari “pengembangan” yang konotasinya agak negatif…soalnya kan lagi bicarain pemanfaatan sms yang kurang baik nih😀

  3. @ Budi : sebaiknya BRTI cepat tanggap dan segera merespon, karena untuk itulah badan regulasi ini dibuat kan…kalau kelamaan maka semakin banyak masyarakat pengguna jasa telekomunikasi yang jadi “korban”, tidak sedikit juga yang akan dibodohi terus-terusan.

  4. koq gua gak menganggap hal tersebut sebagai hal yang negatif yah… gua pikir malahan keren lho… benar-benar bisa melihat peluang bisnis. Masalah konsumen yang terkena dampaknya itu mah pilihan masing-masing deh kayaknya…

  5. ya benar itu kata sahat. masyarakat kita nggak bodoh. gua heran knp banyak orang menyebut2 pembodohan. masyarakat kita pinter2 kok. gw percaya semua orang punya rasio dan free will untuk menentukan tindakannya sendiri. even orang yg tinggal di desa. even anak kecil! klo dibilang pembodohan, brarti kalian ngatain mereka bodoh2 ya?

    logikanya orang yg dibodohi adlah orang yg emang udah ‘bodoh’ dari sananya. salah tuh, cara berpikir kayak gitu. nggak membesarkan bangsa! sama aja kayak megawati yg selalu membela ‘wong cilik’. merasa terbela, kelompok tertentu tersebut akan jadi ‘cilik’ selamanya.. nggak berkembang, n gk gede2… huuu…. jadilah bangsa yg besar dn membesarkan.

  6. Sepertinya Anda salah kalau mengatakan

    “brarti kalian ngatain mereka bodoh2 ya?”

    Pembodohan kan usaha membuat jadi bodoh….jadi kalau mereka pintar dan tidak terbodohi dengan segala macam bujuk rayu iklan itu, tentu mereka bukan orang yang bodoh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s