Budaya Berpindah-pindah Kerja

Setelah berbincang-bincang dengan atasan saya (orang Jepang), saya baru tahu beberapa hal tentang budaya kerja di Jepang. Salah satunya adalah mengenai loyalitas kepada perusahaan. Katanya, di Jepang orang sangat loyal kepada perusahaannya. Salah satu faktornya adalah karena rata-rata perusahaan di Jepang tidak mau menerima karyawan yang memiliki catatan pindah-pindah kerja yang terlalu banyak. Satu atau dua kali pindah kerja masih normal di sana, lebih dari itu semakin kecil kemungkinan untuk diterima kerja lagi di perusahaan lain. Awalnya saya sangat heran mengapa atasan saya ini sudah bekerja di Fujitsu Jepang selama 14 tahun, dan itu adalah pekerjaan dari sejak dia lulus sekolah setara SMA. Rupanya memang di Jepang, orang tidak mau pindah-pindah kerja karena alasan tadi. Takut namanya di-blacklist karena terlalu banyak memiliki catatan pindah-pindah kerja. Beda sekali kan dengan di negara kita, kalau ada yang “lebih baik” ya loncat saja…ha..ha..ha..😀 .

Satu hal lain yang juga mengherankan bagi saya. Di Jepang katanya lulusan SMA bisa berkompetisi dengan lulusan perguruan tinggi di perusahan yang sama untuk posisi yang sama. Luar biasa kan? Coba kita lihat di Indonesia, di sini gelar pendidikan menentukan di mana dan bagaimana posisi kita dalam pekerjaan. Di Jepang gelar pendidikan bukan sesuatu yang utama. Asal orang tersebut mampu mengerjakan pekerjaannya, ya langsung diterima kerja. Toh awal masuk kerja, semua akan memperoleh training. Kenaikan tingkat/pangkat dalam lingkungan kerja tidak lagi memperhatikan latar belakang pendidikan. Karyawan yang hanya lulusan SMA bisa saja menjadi atasan dari orang yang sudah bergelar sarjana. Semuanya tergantung pada kemampuan dan prestasi masing-masing individu.

Mungkin akan lain ceritanya kalau di Indonesia sistem seperti itu diterapkan. Orang tidak akan lagi perlu minder dengan latar belakang pendidikannya, lulusan SMA dan lulusan perguruan tinggi dapat berkompetisi dengan sehat dalam dunia kerja. Tapi apakah lulusan SMA di Indonesia sudah memiliki kualitas sehingga mampu berkompetisi di lingkungan kerja?

4 thoughts on “Budaya Berpindah-pindah Kerja

  1. terus terang saya termasuk orang yang malas pindah kerja…yang paling saya buat malas yaitu harus menyesuaikan lagi dengan lingkungan baru…

  2. Another factor of loyality might be *sense of belonging.
    They give out shares for their employees,
    -why wouldn’t one work in their own company- right..
    Thus, they’ll work even harder.. ^^
    Smarty smart, aye..

    Me – ‘ve never had a real job,
    but yeaa.. if there’s a better one(s), i’d consider to take it..😀

  3. Itu karena perbedaan budaya. Ada pepatah mengatakan:” Lain ladang laing belalang, lain lubuk lain pula ikannya”
    Kalau di Jepang memang kesejahteraan sudah bagus, artinya setiap pekerja di Jepang akan memperoleh gaji dengan standar yang baik, cukup untuk memenuhi kebutuhan standar. Hanya bedanya ada yang “pas” ada yang berlebih sehingga bisa menabung.
    Hal ini berbeda dengan konsisi di Indonesia yang secara umum masih banyak yang “minus” dan sedikit yang “pas” karena masih untung dapat pekerjaan, mengingat tingkat pengangguran pun malah semakin meningkat. Ada sih yang dapat gaji “plus” dan bisa menabung, tapi tidak sebanding dengan yang “minus”
    Demikian komentar saya. Terima kasih.

  4. ada yg lebih aneh lagi, semakin banyak pengalaman kerja yg terpampang di CV maka dikira semakin hebat, padahal mungkin orang itu ga pernah cocok utk suatu pekerjaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s