Budaya Sopan Santun Mengantri

Hari ini adalah hari pertama saya kerja di kantor yang baru, setelah akhir bulan lalu resign dari kantor yang lama. Kantor yang baru ini ada di jalan Sudirman, Jakarta. Oleh karenanya saya memutuskan untuk berangkat ke  kantor dengan menggunakan busway. Bukan kali pertama saya menggunakan busway. Tapi kali pertama saya berada dalam kepadatan antrian busway di jam sibuk kantor.

Halte busway saat jam sibuk, jam orang-orang berangkat dan pulang kantor, memang luar biasa padat. Antrian panjang mewarnai setiap pintu menuju bus. Tidak hanya panjang, antrian bahkan bisa dibilang padat sesak. Sangat wajar jika kepadatan antrian terjadi. Saat pagi hari semua orang bergegas menuju ke tempat kerjanya. Saat sore hari semua orang berduyun-duyun hendak pulang ke rumah. Jelas, semua orang yang mengantri punya satu tujuan yang sama : ingin secepatnya tiba di tempat tujuan.

Yang saya ingin komentari adalah sikap para calon penumpang dalam mengantri. Yang saya ceritakan ini adalah suasana mengantri di halte busway Harmoni, yang ada di jalan Gajah Mada Jakarta Pusat. Hal yang menyebalkan jika para pengantri mulai saling dorong berebut masuk ke dalam bus. Jelas-jelas antrian sudah padat, tetap saja beberapa orang berusaha mendorong orang di depannya. Tentu saja efek domino yang terjadi. Orang di baris terdepan menjadi paling terkena efeknya. Membahayakan, apalagi bagi calon penumpang yang berada persis di pintu halte menuju bus. Bisa saja ada yang jatuh atau terjepit jika sikap dorong-dorongan ini terjadi.

Saya heran kenapa ada saja orang yang tidak tahu sopan santun dalam mengantri. Tidak bisa melihatkah mereka kalau situasi memang padat. Tidak ada artinya mereka mendorong-dorong seperti itu. Toh tetap saja mereka tidak akan bisa langsung masuk bus walaupun mereka mendesak-desak sedemikian rupa. Konyol kalau dipikir dengan hati dan kepala yang tenang. Ada hal yang lucu dari komentar petugas pintu halte busway; “yang buru-buru silakan duluan“. Ha..ha..ha…komentar yang memaksa saya tersenyum di tengah gerahnya mengantri. Tentu saja semua orang akan mengaku buru-buru supaya cepat masuk bus. Tapi ada saja yang merespon ucapan petugas busway tadi. Beberapa orang mendesak-desak, menerobos antrian ingin secepatnya masuk bus.

Kesabaran dan sikap saling menghargai menjadi hal yang langka di tengah laju kehidupan ibukota ini. Orang semuanya bergerak dengan kesibukan masing-masing sehingga toleransi menjadi sedikit terabaikan.

2 thoughts on “Budaya Sopan Santun Mengantri

  1. Saya ingin berkomentar tentang ucapan petugas busway yang anda ceritakan. Memang itu suatu pernyataan yang konyol untuk dilontarkan di halte busway, saya pikir tidak ada orang yang tidak terburu-buru di Jakarta ini, apalagi pada saat-saat jam berangkat atau pulang kantor. Lucu memang pernyataan petugas itu. Tetapi masih kurang lengkap, harusnya ditambah lagi,”yang mau naik, masuknya kaki duluan ya..”
    Paling tidak pernyataan tersebut bisa membuat orang-orang yang mendengarnya bisa sedikit tersenyum. Maklumlah, tingkat stres yang tinggi membuat orang Jakarta sulit tersenyum.🙂

    Sekian dari saya, terima kasih.

    By: Mertanus (yang suka mengamati)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s