Aqua, Evolusi Merek Ke Nama Generik

Tadi malam saya berangkat ke Bandung dengan menggunakan travel. Di tempat istirahat, sebuah rumah makan, saya ingin membeli sebotol Aqua. Penjualnya memberikan saya sebotol air minum bermerek Prim-A. Lucu kan, saya minta Aqua, eh diberi Prim-A. Saya iseng konfirmasi, “Loh Mas, Aqua-nya tidak ada?” Lalu si penjual menjawab “Tidak ada Mas, adanya itu (sambil menunjuk ke botol air tadi).

Sebenarnya tanpa harus bertanya saya sudah tahu kalau restoran tadi tidak menyediakan air minum merek Aqua. Ini pun bukan kali pertama saya diberi merek lain ketika ingin membeli Aqua. Di Bandung, saya pernah beberapa kali memesan Aqua dan mendapat air minum merek lain. Mungkin karena begitu kuat merek Aqua sehingga segala jenis air minum kemasan dikenal sebagai Aqua. Padahal Aqua sendiri adalah sebuah merek, merek produk air minum dalam kemasan yang sekarang dimiliki Danone.

Pencapaian prestasi tertinggi sebuah brand (merek) ketika sudah bisa menjadi nama generik bagi produk sejenis. Orang ingat nama brand tersebut ketika bicara produk jenis tersebut. Di Jawa Tengah misalnya, banyak orang menyebut motor dengan sebutan “Honda”. Padahal Honda sendiri adalah merek/brand motor dari Jepang. Orang juga sering menyebut pasta gigi dengan sebutan “Odol”, padahal katanya Odol sendiri adalah sebuah merek pasta gigi jaman dulu. Saya sendiri tidak pernah lihat produk pasta gigi bermerek Odol.

Masih banyak juga nama merek/brand produk yang akhirnya dikenal orang sebagai nama jenis produk; atau kerennya menjadi nama generik dari jenis produk. Contoh lain sebut saja Baygon, Rinso, Harley, dsb. Merek-merek tadi mewakili produk sejenis. Orang ingat Baygon ketika bicara soal racun serangga, orang ingat Rinso ketika bicara detergen, dan orang akan ingat Harley ketika melihat motor besar (padahal mungkin saja mereknya bukan Harley kan😀 )

7 thoughts on “Aqua, Evolusi Merek Ke Nama Generik

  1. Tapi di sisi lain, bukannya fenomena itu bisa dibilang jadi kelemahan brand Aqua juga ya, since Aqua ‘disamain’ sama Prim-A, Ades, Vit, ato merk2 lain yang mungkin kualitasnya di bawahnya. Orangpun, biar nyarinya ‘Aqua’, tetep gak keberatan kalo disodori merk lain, yang penting air minum.

  2. @Catshade : ya bisa juga jadi kelemahan. Tapi dari sisi branding, itu sebuah pencapaian yang luar biasa kan? bisa membentuk image orang banyak. Tapi biasanya pencapaian level seperti itu seiring sejalan dengan loyalitas pelanggan dengan merek tersebut. Karena produk yang bermutu akan selalu dicari. Saya pribadi dalam pengalaman di atas tidak menolak disodori merek lain, karena memang terkondisikan tidak ada Aqua. Kalau ada Aqua, pasti saya pilih Aqua.

  3. Waktu SMP gua pernah belajar Majas-majas waktu pelajaran Bahasa Indonesia.

    Gua lupa itu mengikuti Majas apa yah… Pas Prototo bukan sih??
    Lupa gua.

  4. aduh pas banget nih..kebetulan saya lagi buat skripsi tentang Brand dan saya memilih topik Brand Trust. dan produk yang saya pilih adalah AQUA. Untuk judul Pengaruh Brand”…” terhadap niat beli konsumen lebih baik Brand Trust atau brand image ya?…sebelumnya thanks…

  5. jadi inget, saya mw buat skripsi ttg brand equity yang ada hubungannya dengan produk aqua, tapi saya masih bingung sama bahannya cz dikit banget . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s