Suasana Libur Agama Di Bali

Hari ini umat Hindu di Bali merayakan hari raya Pager Wesi. Jalan-jalan di Denpasar cukup sepi. Sebagian besar kantor buka setengah hari. Karyawan yang masuk pun katanya rata-rata adalah mereka yang non Hindu, karyawan yang Hindu banyak yang tidak masuk kerja. Menurut rekan saya, di Bali memang banyak hari libur keagamaan. Bahkan katanya sambil berseloroh Bali itu singkatan dari “BAnyak LIbur”πŸ˜€ ada-ada saja. Beberapa hari raya tersebut adalah Nyepi, Galungan, Kuningan, Pager Wesi.

Hari raya Pager Wesi ini katanya dirayakan tiap 210 hari sekali. Penanggalan Hindu mengenal 35 hari per bulan. Jadi hari raya ini dirayakan 6 bulan sekali. Tujuannya menurut teman saya juga, adalah untuk memagari diri dari hal-hal jahat. Bali memang eksotis dengan banyaknya tradisi yang masih dipelihara sampai sekarang. Cerita tentang Nyepi saya peroleh dari sopir taksi. Hari raya Nyepi adalah hari raya menjelang tahun baru Saka. Nyepi di Bali memiliki efek yang dramatis. Semua orang (yang merayakan maupun tidak) tidak boleh beraktivitas di luar rumah – kecuali untuk hal-hal yang bersifat darurat. Si sopir bercerita, 2 hari sebelum Nyepi pusat-pusat perbelanjaan ramai diserbu penduduk Bali. Semua orang (khususnya yang tidak merayakan) membeli makanan untuk dikonsumsi saat Nyepi. Bahkan bandara internasional Ngurah Rai tidak beroperasi pada hari raya Nyepi. Luar biasa efek dari salah satu hari raya keagamaan di Bali ini.

4 thoughts on “Suasana Libur Agama Di Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s