Orang Tua & Anak Kecil Di Tempat Umum

Beberapa hari (9 April 2007) yang lalu saya mendengar berita di televisi tentang tewasnya seorang bocah berusia 3 tahun di Carrefour Mangga Dua Square Jakarta. Diberitakan bocah tersebut, Andrew, tertimpa rak besi setinggi 2 meter. Menyedihkan, tragis kalau boleh disebut demikian

Yang terlintas dalam pikiran saya ketika mendengar berita tersebut adalah kejadian itu pasti akibat dari kelalaian orang tuanya (terlepas dari rencana Tuhan). Bocah 3 tahun dibiarkan sendiri di mal sementara orang tuanya sibuk belanja. Kok bisa-bisanya orang tua melakukan hal seperti itu. Berita yang saya dengar rak besi tempat mainan tersebut jatuh karena si bocah berusaha naik memanjat rak tersebut. Kalau memang benar rak itu jatuh karena si anak berusaha naik, berarti benar-benar pengawasan orang tuanya yang perlu ditanyakan. Anak seumur itu, menurut saya memang belum layak ditinggal sendiri tanpa pengawasan dari pihak orang tua; apalagi di tengah keramaian tempat umum.

Di tempat-tempat umum kadang kita juga melihat orang tua yang santai saja menyaksikan anak-anaknya “berkeliaran”. Di ruang tunggu bandara misalnya, kadang kita bisa menyaksikan anak-anak kecil berlari-lari kejar-kejaran sementara si ibu duduk tenang tak terusik dengan tingkah anak-anaknya. Bahkan di tempat ibadah (gereja) pun sering ada anak-anak berkejar-kejaran, si ibu hanya memandangnya sambil berkata jangan lari-lari nanti jatuh, tanpa ada tindakan yang jelas. Mungkin si ibu akan berdalih ya namanya juga anak-anak. Tapi coba kita lihat apa yang akan terjadi kalau si anak celaka? Orang tua pasti sibuk mencari “kambing hitam”. Selain itu apa mereka (orang tua) tidak sadar tindak tanduk anaknya mengganggu orang lain? Tindakan kekerasan pada anak memang salah, tapi menegur dengan tegas sepertinya adalah hal yang mutlak dibutuhkan orang tua untuk mengendalikan anaknya.

One thought on “Orang Tua & Anak Kecil Di Tempat Umum

  1. Terkadang para orang tua memang terlalu memanjakan anaknya sehingga lepas kontrol. Kalau sudah terjadi sesuatu yang menimpa anaknya barulah sibuk mencari kambing hitam untuk dipersalahkan. Oh kambing hitam, kasihan sekali ya, selalu dipersalahkan…

    Budy Snake
    Social Observer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s