Pengalaman Di Plasa Telkom

Siang tadi saya datang ke Plasa Telkom yang ada di kantor Telkom Jakarta Barat (seberang Mal Taman Anggrek). Tujuan saya ingin mengurus migrasi nomor Flexi saya dari prabayar menjadi pascabayar. Setelah mengambil nomor antrian saya duduk menunggu. Dari jam setengah 11 sampai jam 12 kurang 15 menit saya baru dapat giliran. Aneh juga rupanya sistem antrian di Plasa Telkom. Masing-masing layanan (Speedy, Flexi, PSTN, pembayaran rekening telepon) memiliki nomor antrian masing-masing, meskipun menggunakan display elektronik yang sama untuk memanggil pengunjung yang antri. Jadi nomor pengunjung yang dilayani tidak naik secara linear. Setelah nomor 715 kadang bukan nomor 716 yang dipanggil melainkan nomor 215.

Analisis saya mungkin tiap layanan memiliki nomor antrian masing-masing. Saya pegang karcis dengan nomor 021. Tapi aneh, nomor panggilan dengan angka depan 2 dan 7 dipanggil lebih banyak dari pada dengan angka depan 0. Jadi dari pengunjung nomor 020 ke nomor 021 (saya sendiri) rentang waktunya panjang sekali. Algoritma antrian yang aneh.

Dasarnya saya yang kurang tidur (tadi malam lembur pulang jam setengah 6 pagi), belum ngopi, lapar; saya agak emosi di Plasa Telkom tadi. Ada saja hal yang membuat emosi naik. Setelah dapat panggilan, saya datang ke loket 8. Di sana saya disuruh mengisi formulir migrasi nomor telepon. Sebelum mengisi saya banyak bertanya dengan si mbak customer servicenya. Mungkin si Mbak sudah lapar karena jam sudah hampir jam 12, jadi jawabannya kurang memuaskan bagi saya. Kurang komunikatif.

Setelah isi formulir, saya disuruh membeli materai di warung pos kecil di sisi lain gedung Plasa Telkom. Di sini pun emosi saya terpancing naik. Ibu penjaganya menolak saya karena saya membayar dengan uang pecahan lima puluh ribuan. Katanya dari pagi semua pengunjung membayar dengan rupiah pecahan besar. Jadi dia tidak punya uang kembalian. Saat itu saya tidak memegang uang pecahan lain yang lebih kecil. Lalu si Ibu berkata “Tukar saja dulu Pak uangnya di warung depan kantor Telkom”. Dengan nada suara yang tidak enak didengar. Menyebalkan.

Idealnya kan penjual yang pusing cari kembalian; bukan urusan saya donk kalau dia tidak punya uang kembalian. Sekitar 2 menit saya bingung juga, karena saya butuh materai untuk formulir yang ada di customer service. Eh setelah saya bingung, dia bilang : “minta tolong saja sama customer servicenya untuk membelikan materai”. Sudah lapar, kurang tidur, emosi saja terpancing juga..”kenapa tidak bilang dari tadi” jawab saya sambil meninggalkan warung pos tersebut.

Saya balik lagi ke loket 8, dan minta si Mbaknya membelikan materai. Dia ambil uang dari saya, menghilang sebentar di ruangan yang ada di belakangnya, dan muncul dengan uang kembalian serta materainya. Kalau memang dia bisa menyediakan materai, kenapa harus bikin saya repot cari materai.

Ya mungkin saja kejadian tadi karena saya yang terlalu sensitif; akibat kurang tidur, belum ngopi, dan belum sarapan😀

7 thoughts on “Pengalaman Di Plasa Telkom

  1. Disinilah kita perlu belajar manajemen emosi…

    Sebab idealnya, kita tidak perlu menyalahkan sang penjual materai. Bukankah dia telah memberikan solusi kepada anda? Sial juga buat sang penjual materai, mungkin saja dia pun belum makan. Eh pagi-pagi, dagangan belum laku sudah dibentak oleh seseorang🙂
    Bukankah EQ itu penting dalam bersosialisasi?

    Demikian komentarnya, semoga berkenan.🙂

  2. Gile… kasian amat…
    Ane biasanya kalau urusan dengan langsung gebrak itu meja… tanya mana u punya bos.. karena kalo urusan ame customer service kaga ada jutrungannye. Mending suruh customer service ato ape kek namanya, dari pada tarik urat leher sama dia, enak langsung sama bosnya…
    Biasanya manjur tuh, si customer service langsung angkat telepon nyambungin ke bosnya… kalo disambungin ke satpam, lebih asyik lagi… Hidup Lembaga Konsumen Indonesia…

  3. Wah, saya jadi gak jadi ah, mo migrasi kartu flexy. Padahal tadinya udah niat banget mo migrasi, mana kantor saya juga kan dekat dengan kantor telkom jakarta barat.
    Tapi denger komentar kayak gini jadi males. Hiiiiyyyy….

  4. Hati boleh panas… Kepala harus tetap dingin…. Saya sebagai customer service merasa Tindakan dzaky terlalu sombong… Karna pada dasarnya,semua orang sama. Entah itu customer service seperti saya atau “bos besar” seperti dzaky.

  5. dzaky:
    jgn selalu bertindak arogan dan sombong kita juga manusia…
    sama seperti dzaky, sebagai customer service lebih menyukai plgn yg ramah, tdk sombong dan baik…kita akan lebih empati!
    klo gw dapet plgn kyk dzaky…iiihhh… mmmmaaalllleeezzzzz amat dech

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s