Cerita Tentang Busway

Lagi-lagi bus TransJakarta (busway) memakan korban. Menurut Detik.com kecelakaan kali ini terjadi di daerah Bidara Cina, Kampung Melayu Jakarta Timur. Sopir busnya ternyata perempuan berusia 25 tahun.

Cukup banyak juga kecelakaan busway menabrak pengguna jalan lainnya yang terjadi di Jakarta. Di Harmoni pernah ada pengendara motor yang tertabrak busway, di Suryopranoto pernah ada siswi sekolah menengah tertabrak busway, dan masih ada beberapa cerita menyedihkan lainnya tentang hal yang serupa.

Saya pun kadang merasa ngeri melihat busway melaju dengan kecepatan kencang meskipun busway memiliki lajur tersendiri. Sopir busway mungkin terlalu yakin (terlalu PeDe) bahwa tidak akan ada lagi pengguna jalan lain yang melintas di jalur busway. Katanya yang paling sering “dicium” busway adalah penyeberang jalan. Memang kadang pengguna jalan lain juga salah, karena melintas di jalur busway tanpa tengok kanan kiri. Tapi terkadang pula, kita tidak bisa menyalahkan mereka. Kurang banyaknya jembatan penyeberangan cukup bisa dijadikan alasan mengapa orang menyeberang jalan melintasi jalur busway.

Anda pernah lewat Tarakan alias jalan Kiai Caringin, Jakarta Barat? Hampir sepanjang jalan itu tidak ada jembatan penyeberangan. Dan busway pun melintas pula di jalan ini (sementara sebelum proyek jalur busway Roxy selesai). Apa yang terjadi bila seseorang menyeberang jalan di jalan ini tanpa jembatan penyeberangan? Probabilitas orang tertabrak busway menjadi lebih besar dibandingkan bila terdapat jembatan-jembatan penyeberangan yang memadai.

Solusi masalah ini mungkin harus timbulnya rasa saling menghargai antara sesama pengguna jalan. Pengemudi busway yang punya jalur sendiri tidak boleh semena-mena melaju kencang; silakan ngebut tapi perhatikan pula pengguna jalan lainnya. Siapa tahu ada yang melintas sembarangan. Kendatipun penyeberang jalan salah (karena tidak menyeberang lewat jembatan penyeberangan), bukan berarti pengemudi busway boleh seenaknya menabrak kan? Dan juga masyarakat penyeberang jalan perlu memperhatikan faktor keamanan. Lihatlah ke sekeliling, adakah jembatan penyeberangan yang bisa dimanfaatkan? Jika tidak berhati-hati menyeberang, tengok kiri kanan tentu bisa menjadi sebuah tindakan yang bijaksana.

Pengemudi motor dan mobil pun perlu memperhatikan faktor keselamatan, terutama bila melintas di persimpangan yang dilalui jalur busway. Jangan mentang-mentang lampu sudah menyala hijau, kita bisa melintas dengan begitu percaya diri. Lihat juga apakah ada busway yang masih khilaf melintas.

Sikap saling menghargai, yang mungkin sudah kabur/menipis di masyarakat ibukota ini, perlu dilatih dan dipraktekkan kembali demi keamanan dan kenyamanan bersama.


Technorati : , ,

Powered by Zoundry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s