Hari Raya & Libur Kantor

Hari raya yang jatuh di hari Sabtu atau Minggu memang tidak enak. Hari ini di kalender, angka 31 dicetak merah, hari raya Maulid Nabi. Ah bagi saya tidak ada bedanya kalau hari ini libur hari raya atau tidak. Kantor saya hari kerja adalah hari Senin sampai Jumat, sehingga tidak terasa spesial kalau di hari Sabtu ada hari libur nasional. Coba kalau hari raya yang ada selalu jatuh di hari Jumat atau Senin, pasti lebih enak 😀 . Kalau Jumat atau Senin libur otomatis akhir pekan yang panjang kan?

Dulu kalau tidak salah pemerintah pernah memberlakukan aturan jika ada hari libur “kejepit” atau hari raya yang jatuh di akhir pekan, maka libur ditambah di hari Senin atau Jumatnya. Kenapa ya sekarang sepertinya aturan tersebut sudah tidak ada? Efisiensi waktu kah? Sebagai karyawan biasa saya justru senang dengan aturan tersebut, memperpanjang waktu istirahat dan santai di kos…ha..ha..ha…

Advertisements

Pengalaman Di Plasa Telkom

Siang tadi saya datang ke Plasa Telkom yang ada di kantor Telkom Jakarta Barat (seberang Mal Taman Anggrek). Tujuan saya ingin mengurus migrasi nomor Flexi saya dari prabayar menjadi pascabayar. Setelah mengambil nomor antrian saya duduk menunggu. Dari jam setengah 11 sampai jam 12 kurang 15 menit saya baru dapat giliran. Aneh juga rupanya sistem antrian di Plasa Telkom. Masing-masing layanan (Speedy, Flexi, PSTN, pembayaran rekening telepon) memiliki nomor antrian masing-masing, meskipun menggunakan display elektronik yang sama untuk memanggil pengunjung yang antri. Jadi nomor pengunjung yang dilayani tidak naik secara linear. Setelah nomor 715 kadang bukan nomor 716 yang dipanggil melainkan nomor 215.

Analisis saya mungkin tiap layanan memiliki nomor antrian masing-masing. Saya pegang karcis dengan nomor 021. Tapi aneh, nomor panggilan dengan angka depan 2 dan 7 dipanggil lebih banyak dari pada dengan angka depan 0. Jadi dari pengunjung nomor 020 ke nomor 021 (saya sendiri) rentang waktunya panjang sekali. Algoritma antrian yang aneh.

Dasarnya saya yang kurang tidur (tadi malam lembur pulang jam setengah 6 pagi), belum ngopi, lapar; saya agak emosi di Plasa Telkom tadi. Ada saja hal yang membuat emosi naik. Setelah dapat panggilan, saya datang ke loket 8. Di sana saya disuruh mengisi formulir migrasi nomor telepon. Sebelum mengisi saya banyak bertanya dengan si mbak customer servicenya. Mungkin si Mbak sudah lapar karena jam sudah hampir jam 12, jadi jawabannya kurang memuaskan bagi saya. Kurang komunikatif.

Setelah isi formulir, saya disuruh membeli materai di warung pos kecil di sisi lain gedung Plasa Telkom. Di sini pun emosi saya terpancing naik. Ibu penjaganya menolak saya karena saya membayar dengan uang pecahan lima puluh ribuan. Katanya dari pagi semua pengunjung membayar dengan rupiah pecahan besar. Jadi dia tidak punya uang kembalian. Saat itu saya tidak memegang uang pecahan lain yang lebih kecil. Lalu si Ibu berkata “Tukar saja dulu Pak uangnya di warung depan kantor Telkom”. Dengan nada suara yang tidak enak didengar. Menyebalkan.

Idealnya kan penjual yang pusing cari kembalian; bukan urusan saya donk kalau dia tidak punya uang kembalian. Sekitar 2 menit saya bingung juga, karena saya butuh materai untuk formulir yang ada di customer service. Eh setelah saya bingung, dia bilang : “minta tolong saja sama customer servicenya untuk membelikan materai”. Sudah lapar, kurang tidur, emosi saja terpancing juga..”kenapa tidak bilang dari tadi” jawab saya sambil meninggalkan warung pos tersebut.

Saya balik lagi ke loket 8, dan minta si Mbaknya membelikan materai. Dia ambil uang dari saya, menghilang sebentar di ruangan yang ada di belakangnya, dan muncul dengan uang kembalian serta materainya. Kalau memang dia bisa menyediakan materai, kenapa harus bikin saya repot cari materai.

Ya mungkin saja kejadian tadi karena saya yang terlalu sensitif; akibat kurang tidur, belum ngopi, dan belum sarapan 😀

Polisi Kehilangan Taringnya Kah?

Hari ini saya membaca berita yang lucu sekaligus mencemaskan, berita di Detik.com mengatakan seorang polisi luka-luka dihajar FPI. Wuih…aparat keamanan negara dihajar orang sipil? Dunia rupanya sudah mulai terbalik.

Hari Kamis 29 Maret 2007 kemarin, Jakarta memang disibukan dengan beberapa demo. Yang paling ramai adalah di Jalan Jendral Soedirman dan di Jalan Proklamasi. FPI dan FBR adalah demostran yang terlibat. FPI (Front Pembela Islam) dan FBR (Front Betawi Rempug) sama-sama menentang acara yang diadakan Papernas (Partai Persatuan Pembebasan Nasional). Kedua ormas menentang Papernas yang dituding menjadi partai reinkarnasi PKI, beraliran komunis. Tapi berita lain yang saya dengar, para petinggi Papernas menentang keras jika partainya dituding sebagai partai komunis.

Yang membuat saya cukup geram adalah aksi perusakan yang dilakukan demostran. Kenapa harus berdemo dengan anarkis seperti itu? Polisi pun tampaknya sudah “terlalu baik” karena tidak menindak tegas demonstran yang anarkis. Kalau setiap demo, para demostran dibiarkan bertindak seperti itu, wah bisa kacau jadinya Jakarta. Polisi seharusnya melakukan langkah preventif sebelum aksi anarkis terjadi. Konyol kan kalau Polisi bertindak setelah ada korban. Beberapa mobil angkutan umum rusak, apa harus ada korban jiwa dulu Polisi baru bertindak? Terbentur HAM? Ah, HAM yang mana dulu yang akan dijunjung? Bagaimana dengan hak asasi warga Jakarta yang ingin Jakarta damai dan bebas huru -hara, bebas macet (katanya Jalan Soedirman macet sekali ketika aksi demostran tadi berlangsung) ? Atau Polisi takut? Masa jadi Polisi kok takut? Saya sejak kuliah memang bukan orang yang senang ikut demo, tapi saya yakin sekali andaikata saya ikut demo pun, saya tidak akan melakukan tindakan anarkis…melempari orang dengan batu, memecahkan kaca mobil, apalagi memukuli aparat. Demo ya demo, anarkis nanti dulu.

Sangat disayangkan Polisi lambat mengambil tindakan tegas. Meskipun beberapa orang yang terlibat bentrok sudah diamankan, namun tetap saja percuma. Imbas dari tindakan anarkis mereka sudah terjadi. Pak Polisi, galak sedikit tidak apalah asal pada tempatnya. Sepertinya kalau sedang menilang pelanggar lalu lintas, Bapak-bapak galak kok 😀 …..masa sekarang yang di depan mata merusak kok tidak ditindak tegas?

Buku Pertama Yang Saya Tulis Dengan LaTeX

Buku pertama yang saya tulis dengan menggunakan \LaTeX adalah buku skripsi saya. Bulan April-Juni 2006 saat saya menyusun tugas akhir di ITB, saya menulis buku laporan tugas akhir dengan menggunakan \LaTeX.

Berikut ini adalah file buku tugas akhir saya (dalam versi pdf), silakan dilihat di sini.

Bagi Anda yang sedang menyusun buku laporan tugas akhir/skripsi, Anda bisa melihat hasil yang diperoleh jika dokumen ditulis dengan menggunakan \LaTeX. Saya sangat merekomendasikan \LaTeX untuk menulis buku laporan tugas akhir/skripsi, karena hasilnya menurut saya lebih bagus dibandingkan jika ditulis menggunakan word processor. Bila Anda ingin menulis buku skripsi Anda menggunakan \LaTeX dan membutuhkan template source code, silakan hubungi saya.

Undangan Online

Beberapa waktu ini saya sering melihat undangan pernikahan yang dilengkapi dengan alamat website. Website tersebut biasanya berisi undangan pernikahan itu sendiri dan dilengkapi juga dengan beberapa hal lain seperti misalnya profil kedua mempelai, dll.  Website tesebut ada yang ditaruh di server/website pribadi, ada juga yang memanfaatkan layanan penyedia undangan online semacam http://www.weddingpath.com. Rupanya era internet mulai merambah ke cara orang menyampaikan undangan pernikahan. 😀

“Policy” Kantor Yang Aneh

Aturan dibuat untuk kepentingan manusia, untuk mengatur supaya manusia tertib, nyaman, dan aman. Tapi kadang manusia terjebak pada situasi dimana aturan membuatnya menjadi “korban”. Sudah seharusnya aturan ditegakkan dan dipatuhi semua orang yang ada dalam lingkup wewenangnya. Akan tetapi, adalah suatu hal yang kurang pas jika manusia (si pembuat aturan) terlalu kaku dan buta dalam menerapkan aturan.

Sekadar curhat :

Di kantor saya, biaya telepon seluler karyawan hanya bisa mendapat ganti dari kantor jika karyawan ybs. menggunakan layanan pasca bayar. Sementara yang menggunakan pra bayar siap-siaplah gigit jari. Saya sampai menulis postingan ini masih menggunakan layanan pra bayar. Banyaknya pemakaian telepon untuk urusan kantor tidak dianggap sebagai sebuah alasan untuk sedikit “membengkokan” aturan. Kantor tidak (atau lebih halusnya “belum”) peduli dengan fakta bahwa saya masih menggunakan telepon pra bayar. Selama saya belum migrasi ke layanan pasca bayar, saya tidak diperkenankan menerima penggantian atas biaya pulsa yang saya gunakan dalam urusan kantor. Padahal faktanya saya sering tugas keluar kota dan otomatis pemakaian telepon pun ada.

Rekan kantor hanya menyarankan buatlah kuitansi fiktif (sebesar biaya pulsa) namun dengan rincian pemakaian yang lain. Misalnya buatlah kuitansi untuk membayar orang lain membantu pekerjaan kantor, dengan besar nominal harga pulsa yang saya beli. Saya tolak usulan itu (update terakhir : bos yang perintahkan kuitansinya). Yang saya inginkan adalah kantor memahami fakta yang sebenarnya. Mungkin juga kantor takut saya menggelembungkan/markup biaya pulsa lebih dari yang sebenarnya.

Ah memang, kadang sudah jujur pun tidak dipercaya. Kasus lain adalah urusan ijin. Saya ijin sakit (tapi tidak ke dokter) dianggap bolos. Jika ingin dianggap ijin sakit, bawalah surat ijin dari dokter. Jika sudah terlanjur sembuh dan belum ke dokter, carilah surat ijin palsu. Jika bolos, tulislah surat ijin keperluan keluarga. Sempat pula beberapa kali saya sakit (namun tidak ke dokter), yang terjadi adalah absen saya tinggi..karena saya menolak untuk mencari surat sakit dokter versi “fiktif”. Orang lain yang tidak masuk dengan alasan sakit (hanya Tuhan yang tahu dia sakit atau bolos), diterima ijinnya, tidak dianggap bolos. Policy macam apa ini? Kebijakan untuk mengantisipasi para “pembohong” yang merugikan kantor?

Ya sekali lagi saya katakan, ini hanya sekadar curhat.

Atlet Catur Ditelantarkan Pemerintah

Tadi pagi saya melihat tayangan Liputan 6 di SCTV. Ada liputan tentang pecatur cilik Indonesia (Ruli Rachmat..kalau saya tidak salah ingat) yang menang di kejuaraan catur ASEAN di Ancol tahun lalu. Tragisnya, meskipun dia dapat medali emas dan perunggu dia harus pulang jalan kaki dari Ancol ke rumahnya di Cempaka Putih. Gila…atlet catur membawa nama Indonesia tapi tidak diberi akomodasi memadai. Sampai urusan transportasi tidak disediakan.

Yang menarik untuk dikomentari adalah wawancara Bayu Setiono (pembawa acara Liputan 6) dengan Menpora Adhyaksa Dault via telepon. Di wawancara tersebut Bayu menanyakan mengapa pemerintah terkesan menelantarkan orang yang sudah membawa nama Indonesia lewat prestasi olahraga. Lucu sekali mendengar komentar Menpora. Dia marah-marah tidak mau disalahkan atas pengalaman si pecatur pulang jalan kaki setelah dia meraih 4 medali sementara kakaknya meraih 5 medali. Menurut Menpora, masih banyak atlet yang miskin dan semuanya bukan tanggung jawab Menpora semata, masa semua urusan dilimpahkan ke Menpora.

Komentar Menpora dengan nada tinggi tersebut memancing saya semakin memperhatikan wawancara tersebut. Saya kecewa melihat Menpora berpendapat demikian. Mengapa Menpora tidak dengan rendah hati mengakui bahwa ada kelemahan yang ada di pemerintah khususnya departemen yang mengurusi masalah olahraga. Dia mengatakan sudah ada PB Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) yang mengurusi hal tersebut. Sangat memprihatinkan bagi saya, seorang Menteri berpendapat demikian. Terkesan lepas tanggung jawab, tidak mau disalahkan. Lain kan halnya dengan perlakuan yang diberikan pemerintah terhadap atlet semacam Taufik Hidayat. Bulutangkis mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

Mungkin cara penyampaian Menpora yang kurang tepat, dengan nada tinggi dan terkesan marah-marah. Mungkin juga benar Menpora sudah banyak urusannya sehingga tidak mau diganggu dengan urusan-urusan sepele seperti mengantar (atau paling tidak mengongkosi) atlet berprestasi pulang setelah bertanding. Tapi ya, bagi saya tetap saja lucu menyaksikan wawancara tadi. Menteri kok marah-marah di depan publik. Orang salah kan biasanya lebih galak…. 😀

13 Alasan Menggunakan LaTeX – bagian 3

Alasan ketiga dari 13 Alasan Menggunakan LaTeX adalah BEBAS VIRUS.

Source code \LaTeX tersusun dari karakter ASCII dalam format plain text dan disimpan dengan ekstensi *.tex. Dengan demikian, file source code ini tidak dapat disusupi oleh virus. Lain halnya dengan dokumen yang ditulis dengan menggunakan word processor. Besar kemungkinan file tersebut disusupi virus atau menjadi rusak karena terkena virus.

Lolos Dari Copet Handphone

Pagi ini saya berangkat ke kantor dengan naik bis. Dari Tomang ke Juanda saya naik bis jurusan Tangerang-Senen. Ada yang mencurigakan waktu saya naik lewat pintu belakang. Ada sekitar 3 orang bapak bertampang cukup sangar mengatur-atur penumpang yang mau naik dan turun dari bis. Termasuk saya yang didesak-desak ketika baru naik. Ketiga orang itu memegang jaket di tangan kanannya.

Curiga saya bertambah melihat tingkah laku mereka yang tidak wajar. Biasanya penumpang bis yang berdiri akan berebut tempat duduk begitu ada penumpang yang meninggalkan tempat duduknya. Akan tetapi, tiga orang ini tidak kunjung duduk. Semuanya sok sibuk mengatur orang lain dengan sedikit mendorong dan mendesak penumpang lain.  Saya segera saja duduk ketika ada bangku kosong. Sambil tetap waspada karena gelagat yang buruk, saya raba handphone di saku celana masih ada di sana.

Ketika di Cideng ada seorang ibu yang heboh di bangku belakang, handphone hilang. Makin lengkap kecurigaan saya bahwa 3 orang yang tadi adalah sindikat copet handphone. Rupanya ibu tadi juga punya kecurigaan yang sama dengan saya. Dia bahkan cekcok mulut dengan 2 orang yang mencurigakan tadi. Dan ternyata salah satu dari 3 orang tadi sudah turun di dekat Biak. Sampai di halte Pintu Air saya turun, tidak lupa meraba handphone di kantong – masih ada. Aman…pikir saya.

Sampai kantor saya baru sadar bahwa yang hilang dari kantong celana saya adalah rokok Sampoerna Mild saya. Saya bawa sebungkus Mild di kantong tempat saya menaruh handphone. Rupanya si copet salah sasaran. Tapi syukurlah yang hilang cuma rokok, handphone saya aman di kantong 😀 .  Thanks God.