Harmoni, Di Bawah Rintik Hujan

Lampu lalu lintas perempatan Harmoni, pukul 03.00 Rabu hari.

Rintik kecil hujan sejak sore membasahi Jakarta. Dari jok belakang BlueBird, saya melihat 2 anak perempuan mendekat ke pintu mobil. Yang satu membawa gitar, yang lain membawa kecrekan. Tubuh mereka basah, mata mereka mata penuh kelelahan. Pengamen kecil, anak jalanan, apa sebutan yang pantas buat mereka? Di sinari lampu jalanan, di bawah cemerlangnya layar raksasa di atas pos Polisi Harmoni (yang terus-terusan memutar iklan Sampoerna), rupanya sejak tadi mereka setia menunggu mobil yang berhenti ketika lampu merah, tepat di samping kantor Sekretariat Negara. Menunggu sambil duduk-duduk di separator busway.

Siapa sebenarnya mereka? Anak siapa mereka? Kemana orang tuanya? Adakah tangan-tangan jahat yang memeras, memperalat mereka? Ketika lampu lalu lintas menyala merah, bergegas mereka mencari mobil yang bisa mereka hampiri, berharap beberapa rupiah bisa mereka bawa.

Ada perdebatan kecil di benak saya; haruskah saya beri uang kepada mereka atau biarkan saja?

Kubu terkuat dalam benak saya berkata : “Jangan beri uang, kasihan masa depan mereka”. Dari dulu saya punya prinsip tidak pernah memberi uang pada pengamen (yang asal buka suara, tepuk tangan, tidak sungguh-sungguh menyanyi). Kepada pengamen bertalenta (menyanyi dengan baik, bermain gitar dengan baik, bermain biola dengan menarik) saya tak segan merogoh saku memberi uang kepada mereka, hitung-hitung nonton konser murah meriah. Tapi kepada mereka yang asal-asalan, rasanya malas memberi uang kepada mereka.

Pelit? Ya – mungkin. Terkesan mereka menanti uang yang orang beri “seiklasnya” pada mereka. Apa bedanya pengamen kecil tadi dengan pengemis kalau begitu ceritanya. Kalau kecil-kecil saja sudah bermental meminta-minta, bagaimana nanti ketika dewasa? Menjauhlah mereka dari samping BlueBird yang saya naiki.

Kubu lain dalam benak saya berdalih, apa hak kamu mendakwa mereka? Hai Tedy, ingatlah, siapa mencari akan mendapat, siapa mengetuk akan mendapat pintu yang dibukakan, siapa meminta akan memperoleh. Wah-wah…siapa saya, berhak mendakwa mereka? Siapa saya, berani bertaruh atas masa depan mereka? Tahu apa saya, akan masa depan mereka?

Lampu hijau menyala, BlueBird pun kembali melaju menuju Tomang. Pengamen kecil kembali duduk-duduk di separator busway. Saya sibuk dengan dua kubu berperang di benak saya.


Technorati :

Powered by Zoundry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s