Kesalahan Berbahasa

Salah seorang mantan guru saya di SMA dulu, JS Kamdhi, mengirimkan sebuah buku kecil hasil karyanya kepada saya. Buku tersebut berisi tentang cerita pengalamannya menjadi guru di Cirebon selama 25 tahun. Beliau adalah seorang guru Bahasa Indonesia di SMA Santa Maria 1 Cirebon. Buku kecil tersebut dicetak oleh sebuah percetakan di kota Cirebon dan diedarkan untuk kalangan terbatas saja. Kebetulan saya adalah salah seorang yang diminta mengirimkan naskah untuk disisipkan dalam buku tersebut.

Yang menggelitik untuk dikomentari adalah banyak kesalahan ketik dalam bukunya tersebut. Saya tahu persis guru saya ini orang yang sangat mengerti Bahasa Indonesia, oleh karenanya saya yakin kesalahan ketik bukan dilakukan oleh beliau tapi oleh pihak percetakan. Setelah saya konfirmasi, ternyata benar bahwa pihak percetakanlah yang melakukan kelalaian berbahasa dengan kesalahan ketik.

Contoh yang lucu adalah kata “berpikir” yang dicetak menjadi “berfikir”. Bagi saya ini lucu sekali. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata yang benar adalah “berpikir”. Mengapa lucu? Karena menurut pendapat saya, percetakan melakukan kesalahan fatal dengan mengganti seenaknya sebuah kata yang ada dalam naskah buku tersebut. Kata “berpikir” muncul lebih dari 10 kali; tidak ada satupun yang benar penulisannya. Kesalahan lain adalah kesalahan ketik sehingga banyak sekali kata yang tercetak tidak sempurna. Kurang huruf, salah spasi adalah dua contoh kesalahan yang sering muncul.

Aneh, menyalin naskah yang sudah ada pun tidak dikerjakan sungguh-sungguh. Ironis rasanya buku karangan guru Bahasa Indonesia, yang sering mendapat penghargaan tingkat nasional, memiliki kesalahan berbahasa yang berulang-ulang.


Technorati : ,

Powered by Zoundry

One thought on “Kesalahan Berbahasa

  1. Memang seperti itulah keadaan mayoritas masyarakat Indonesia yang kurang peduli dan menganggap remeh hal detil. Mengenai kesalahan dalam pengetikan kata “berfikir” yang seharusnya diketik “berpikir” saya pun setuju dengan pendapat anda bahwa hal itu dipastikan kesalahan dari editor percetakan buku tersebut.
    Analisis saya bersimpulan bahwa editor mungkin menganalogikan kata tersebut dengan kesalahan pelafalan Bahasa Indonesia oleh masyarakat Sunda. Kesalahan yang terjadi dalam pelafalan bunyi “F” dan “V” yang seringkali diucapkan dengan bunyi “P”
    Contoh pelafalan yang sering dilakukan oleh masyarakat kita:
    *Dufan dibaca dupan
    *Fanta dibaca panta
    *Ventilasi dibaca pentilasi
    *Sertifikat dibaca sertipikat
    *Verifikasi dibaca peripikasi, dan lain sebagainya.
    Dari contoh-contoh tersebut mungkin saja editor berpendapat bahwa yang benar adalah “berfikir” padahal yang benar sesuai dengan ketentuan Ejaan Yang Disempurnakan yang tepat adalah “berpikir” hal ini sesuai dengan yang ada pada Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga.
    Demikian komentar dari saya, terima kasih.

    Budy Snake
    Indonesian Language Observer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s