Sejarah Singkat LaTeX – bagian 2

Pada saat diciptakan pertama kali sebagai typesetting tool, TeX merupakan program yang berbasis sistem operasi UNIX. Dalam pengembangannya, TeX tersedia untuk berbagai macam platform komputer dan sistem operasi; dari UNIX, Linux, Windows, MacOS, dll. TeX dirancang secara spesifik sehingga file yang berisi source code-nya bersifat portabel; atau dengan kata lain dapat menghasilkan keluaran yang sama di segala macam sistem operasi komputer yang digunakan. Pemenggalan kata yang sama, pergantian yang sama, pergantian halaman yang sama, dll. Source code TeX ditulis dalam karakter ASCII sehingga sifatnya berbasis teks (text-based). Source code ini berisi perintah-perintah pemformatan dan juga isi dokumennya itu sendiri. TeX bukan sistem WYSIWYG. Program pengolah kata yang umum kita kenal seperti Microsoft Word, Open Office merupakan contoh program pengolah kata yang bersifat WYSIWYG (what you see is what you get). Program pengolah kata semacam itu langsung menampilkan dokumen hasilnya pada layar komputer seketika saat kita mengetikkan teks pada keyboard.

Advertisements

Beda “text editor” & “word processor”?

Pernah ada sebuah pertanyaan dilemparkan di salah satu mailing list iptek yang saya ikuti, apa sih gunanya Notepad? Pertanyaan yang terkesan sederhana dan bisa juga terkesan “bodoh”, tapi dapat juga dijadikan bahan diskusi.

Notepad adalah salah satu (atau mungkin satu-satunya) text editor di lingkungan Microsoft Windows. Text editor? Apalagi itu? Text editor adalah program yang digunakan untuk mengetik teks dalam komputer, teks yang diketik dengan menggunakan text editor tidak ditambahi pengaturan format apapun, tidak diatur jenis hurufnya, tidak diatur spasinya, tidak diatur rata kanan-kirinya, dsb. Semua teks disimpan sebagai deretan karakter ASCII saja.

Lalu apa bedanya dengan word processor semacam Microsoft Word atau Open Office? Sepintas ada kesamaan antara word processor dengan text editor, sama-sama dipakai untuk mengetik. Tapi word processor punya banyak kelebihan dalam hal ketik-mengetik. Dia mampu menambahkan berbagai pengaturan tambahan, bisa mengatur jenis huruf yang akan dipakai, bisa mengatur lebar spasi, ukuran huruf, perataan dokumen, dsb.

Text editor umumnya digunakan untuk menuliskan source code sebuah program. Dengan menggunakan text editor, teks yang ditulis hanya murni berupa karakter ASCII yang disusun sedemikian rupa menjadi deretan kode program. Compiler akan membaca kode program itu satu persatu sesuai dengan bahasa pemrograman yang digunakan.

Sebuah karakter ASCII direpresentasikan dengan 8 bit data. Ketika kita menekan sebuah tombol karakter di keyboard, keyboard menghasilkan deretan 8 bit data kepada processor. Dengan sistem encoding, 8 bit data tersebut diterjemahkan menjadi sebuah karakter — sehingga ketika kita menekan tombol “A” yang muncul di text editor ya “A” juga. Tiap karakter tersusun dari kombinasi 8 bit data yang berbeda-beda. Silakan lihat Tabel Karakter ASCII berikut, pada tabel tersebut karakter “A” diwakili oleh deretan bit 10000001 (dalam bilangan Hexadecimal sama dengan 40). Jadi sebuah teks yang diketik dengan menggunakan text editor (Notepad misalnya) dapat kita analogikan dengan deretan kode 0 dan 1 saja yang tersusun sesuai Tabel Karater ASCII tadi. Murni tanpa adanya perintah-perintah pemformatan dokumen.


Technorati : , , , ,

Powered by Zoundry

Sejarah Singkat LaTeX – bagian 1

Untuk dapat memahami sejarah LaTeX, kita perlu mengetahui terlebih dahulu sejarah TeX. LaTeX adalah hasil turunan dari TeX. TeX adalah bahasa pemrograman yang diciptakan khusus dan menjadi bagian utama dari sistem pencetakan (typesetting system) yang akan menghasilkan dokumen (teks, gambar, notasi matematis) yang berkualitas tinggi. TeX diciptakan oleh Prof. Donald Knuth sekitar tahun 1978. Awalnya Prof. Donald Knuth menciptakan TeX pada akhir tahun 1978 untuk merevisi buku karyanya yaitu The Art of Computer Programming edisi kedua. Buku The Art of Computer Programming memerlukan perbaikan karena banyak simbol matematika yang tidak dapat dicetak dengan sempurna oleh sistem percetakan pada masa itu. Prof. Donald Knuth berharap program yang dibuatnya akan mampu menghasilkan sistem percetakan dokumen yang berkualitas tinggi, mampu mencetak teks, angka, simbol-simbol matematis dengan sempurna.

<bersambung>


Technorati : , ,

Powered by Zoundry

Harmoni, Di Bawah Rintik Hujan

Lampu lalu lintas perempatan Harmoni, pukul 03.00 Rabu hari.

Rintik kecil hujan sejak sore membasahi Jakarta. Dari jok belakang BlueBird, saya melihat 2 anak perempuan mendekat ke pintu mobil. Yang satu membawa gitar, yang lain membawa kecrekan. Tubuh mereka basah, mata mereka mata penuh kelelahan. Pengamen kecil, anak jalanan, apa sebutan yang pantas buat mereka? Di sinari lampu jalanan, di bawah cemerlangnya layar raksasa di atas pos Polisi Harmoni (yang terus-terusan memutar iklan Sampoerna), rupanya sejak tadi mereka setia menunggu mobil yang berhenti ketika lampu merah, tepat di samping kantor Sekretariat Negara. Menunggu sambil duduk-duduk di separator busway.

Siapa sebenarnya mereka? Anak siapa mereka? Kemana orang tuanya? Adakah tangan-tangan jahat yang memeras, memperalat mereka? Ketika lampu lalu lintas menyala merah, bergegas mereka mencari mobil yang bisa mereka hampiri, berharap beberapa rupiah bisa mereka bawa.

Ada perdebatan kecil di benak saya; haruskah saya beri uang kepada mereka atau biarkan saja?

Kubu terkuat dalam benak saya berkata : “Jangan beri uang, kasihan masa depan mereka”. Dari dulu saya punya prinsip tidak pernah memberi uang pada pengamen (yang asal buka suara, tepuk tangan, tidak sungguh-sungguh menyanyi). Kepada pengamen bertalenta (menyanyi dengan baik, bermain gitar dengan baik, bermain biola dengan menarik) saya tak segan merogoh saku memberi uang kepada mereka, hitung-hitung nonton konser murah meriah. Tapi kepada mereka yang asal-asalan, rasanya malas memberi uang kepada mereka.

Pelit? Ya – mungkin. Terkesan mereka menanti uang yang orang beri “seiklasnya” pada mereka. Apa bedanya pengamen kecil tadi dengan pengemis kalau begitu ceritanya. Kalau kecil-kecil saja sudah bermental meminta-minta, bagaimana nanti ketika dewasa? Menjauhlah mereka dari samping BlueBird yang saya naiki.

Kubu lain dalam benak saya berdalih, apa hak kamu mendakwa mereka? Hai Tedy, ingatlah, siapa mencari akan mendapat, siapa mengetuk akan mendapat pintu yang dibukakan, siapa meminta akan memperoleh. Wah-wah…siapa saya, berhak mendakwa mereka? Siapa saya, berani bertaruh atas masa depan mereka? Tahu apa saya, akan masa depan mereka?

Lampu hijau menyala, BlueBird pun kembali melaju menuju Tomang. Pengamen kecil kembali duduk-duduk di separator busway. Saya sibuk dengan dua kubu berperang di benak saya.


Technorati :

Powered by Zoundry

Sebuah Manfaat Yahoo Messenger

Yahoo Messenger, setiap orang yang kenal internet hampir dapat dipastikan mengenal Yahoo Messenger atau biasa kita singkat dengan istilah YM. YM adalah sebuah program instant messaging yang memungkinkan para pemilik email Yahoo! (bahkan sekarang bisa juga digunakan bagi pengguna MSN-Hotmail) untuk dapat berkomunikasi melalui media teks, suara, maupun video. Gampangnya kita biasa menyebutnya dengan istilah “chatting“.

Sudah lebih dari 6 tahun saya menggunakan Yahoo Messenger tapi hari ini saya merasakan sebuah manfaat lain dari YM selain sarana komunikasi yang murah meriah dan mantap. Hari ini dengan menggunakan YM saya bisa mengumumkan nomor handphone baru saya dengan praktis dan cepat. YM dapat mengirimkan pesan ke banyak orang sekaligus. Pekerjaan saya jadi lebih mudah karena tinggal mengirimkan pemberitahuan lewat SMS kepada teman-teman yang tidak menggunakan YM. Memang cara ini beresiko keterlambatan info pada orang yang jarang membuka YMnya. Oleh karenanya orang-orang yang saya rasa berkepentingan dengan saya, saya prioritaskan juga dalam daftar SMS pemberitahuan saya.

Thanks to Yahoo Messenger.


Technorati : ,

Powered by Zoundry

Libur Imlek

Senin ini, suasana jalan di Jakarta masih relatif sepi dibandingkan biasanya. Mungkin masih banyak kantor yang libur, menyambung libur tahun baru Imlek yang tepat jatuh Minggu 18 Februari 2006 kemarin. Hmm, sayang kantor saya tidak libur juga. Tapi memang suasana kantor sepi rupanya banyak juga karyawan yang mengambil cuti di sekitar tahun baru Imlek kemarin.

Katanya tahun ini adalah tahun babi api, sementara tahun kemarin adalah tahun anjing api. Bagi sebagian kalangan etnis Tionghoa, momen pergantian tahun disikapi dengan hati-hati sekali. Katanya lagi tiap tahun yang berbeda, membawa peruntungan yang berbeda pula. Informasi tentang bagaimana “peruntungan” di tahun baru, apa yang harus dihindari, apa yang tidak boleh dilakukan. Semua berbeda bagi tiap orang sesuai dengan shio orang tersebut. Jika pantangan-pantangan tersebut dilanggar, katanya lagi nih, orang tersebut akan dilanda bencana, tertimpa sial, dll.

Selamat Tahun Baru Imlek 2558 bagi Anda yang merayakannya. Gong Xi Fat Choi….

Iklan Paranormal di POS KOTA

Sesuatu membuat saya geli pagi ini. Saya geli ketika tak sengaja membaca harian POS KOTA yang diletakan teman saya di meja tamu. Di harian itu ada beberapa iklan “PARANORMAL”. Macam-macam layanan yang mereka tawarkan : jasa menangkap tuyul/setan/dkk, pengasihan, benteng gaib, pasang susuk, santet, pelet wanita, dsb.

Ada sesuatu yang menarik untuk dianalisis, coba Anda pahami baik-baik 2 poin analisis berikut ini :

  1. Mengapa rata-rata iklan semacam ini sering sekali ada di harian yang lebih mementingkan oplah ketimbang konten berita? Yang komunitas pembacanya adalah dengan latar belakang pendidikan rendah? Meskipun tak dipungkiri banyak juga orang berpendidikan yang membacanya karena sedang mencari iklan mobil misalnya, atau sedang mengiklankan rumahnya. Tidak percaya? belilah harian yang tampilannya tidak menarik, dengan headline yang dibuat dengan bahasa seadanya, atau kadang dengan bahasa yang membuat kita geleng kepala. Hampir dapat dipastikan ada iklan-iklan seperti itu.
  2. Mengapa hampir tidak ada iklan semacam itu di harian berskala nasional yang cukup punya nama – Kompas, Media Indonesia, dll – mahalkah beriklan di harian sekelas itu? Bukankan dengan area distribusi yang lebih luas dapat menjaring konsumen lebih banyak?

Saya rasa bukan masalah ongkos pasang iklan yang menjadi pertimbangan mengapa para paranormal lebih suka beriklan di harian di poin 1 di atas. Saya pikir yang menjadi alasan adalah mereka (si paranormal pemasang iklan) tahu persis sasaran layanannya (target market). Tentu lebih banyak orang yang “percaya” hal-hal yang mereka tawarkan, jika mereka mengiklankan diri di harian seperti yang saya sebut pada poin 1 di atas. Anda menangkap kan maksud saya?

Kasihan masyarakat kita, terus-terusan dibodohi hal-hal mistis seperti ini.

Tutorial LaTeX

Tahun 2006 lalu saya pernah membuat sebuah tulisan berjudul Membuat Dokumen Dengan LaTeX. LaTeX adalah salah satu program typesetting berkualitas tinggi dan berstandar internasional. Bagi Anda yang tertarik mempelajari LaTeX untuk membuat dokumen (skripsi, makalah, buku), silakan men-download file tutorial ini.

RALAT (18 April 2007):

Sedikit ralat pada artikel saya : Membuat Dokumen Dengan LaTeX.

Ralat pada halaman 22 mengenai cara menampilkan gambar dalam dokumen. Revisinya adalah sebagai berikut :

Continue reading

Kesalahan Berbahasa

Salah seorang mantan guru saya di SMA dulu, JS Kamdhi, mengirimkan sebuah buku kecil hasil karyanya kepada saya. Buku tersebut berisi tentang cerita pengalamannya menjadi guru di Cirebon selama 25 tahun. Beliau adalah seorang guru Bahasa Indonesia di SMA Santa Maria 1 Cirebon. Buku kecil tersebut dicetak oleh sebuah percetakan di kota Cirebon dan diedarkan untuk kalangan terbatas saja. Kebetulan saya adalah salah seorang yang diminta mengirimkan naskah untuk disisipkan dalam buku tersebut.

Yang menggelitik untuk dikomentari adalah banyak kesalahan ketik dalam bukunya tersebut. Saya tahu persis guru saya ini orang yang sangat mengerti Bahasa Indonesia, oleh karenanya saya yakin kesalahan ketik bukan dilakukan oleh beliau tapi oleh pihak percetakan. Setelah saya konfirmasi, ternyata benar bahwa pihak percetakanlah yang melakukan kelalaian berbahasa dengan kesalahan ketik.

Contoh yang lucu adalah kata “berpikir” yang dicetak menjadi “berfikir”. Bagi saya ini lucu sekali. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata yang benar adalah “berpikir”. Mengapa lucu? Karena menurut pendapat saya, percetakan melakukan kesalahan fatal dengan mengganti seenaknya sebuah kata yang ada dalam naskah buku tersebut. Kata “berpikir” muncul lebih dari 10 kali; tidak ada satupun yang benar penulisannya. Kesalahan lain adalah kesalahan ketik sehingga banyak sekali kata yang tercetak tidak sempurna. Kurang huruf, salah spasi adalah dua contoh kesalahan yang sering muncul.

Aneh, menyalin naskah yang sudah ada pun tidak dikerjakan sungguh-sungguh. Ironis rasanya buku karangan guru Bahasa Indonesia, yang sering mendapat penghargaan tingkat nasional, memiliki kesalahan berbahasa yang berulang-ulang.


Technorati : ,

Powered by Zoundry