Ketika menulis sebuah artikel atau posting di blog, saya sering menghadapi kendala ketika harus menggunakan kata-kata serapan dari bahasa Inggris. Kata-kata yang sering sulit dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia adalah istilah-istilah teknologi. Misalnya :
“Kecepatan download sebuah file ditentukan oleh besarnya bandwidth yang kita peroleh dari provider internet.”
Dalam Bahasa Indonesia seharusnya saya menulis :
“Kecepatan mengunduh sebuah berkas ditentukan oleh besarnya lebar jalur yang kita peroleh dari penyedia layanan internet.”
Terasa janggal dan aneh di mata dan telinga saya ketika membaca kalimat terjemahan semacam itu. Dilema penggunaan kata-kata serapan sering sekali saya temui ketika menulis dengan menggunakan banyak istilah-istilah iptek. Anda paham kan dengan maksud saya ini? Kita yang sudah terbiasa dengan istilah dalam bahasa asing malah akan kerepotan ketika harus membaca atau menulisnya dalam Bahasa Indonesia.
Dulu ketika kuliah saya pun pernah mengalami hal yang serupa dengan buku kuliah. Kuliah Dasar Teknik Elektro saya ingat, saya sengaja mencari buku terjemahannya; maksud saya supaya mudah belajarnya
. Hasilnya? Nihil, buku terjemahan tersebut malah saya rasa tidak berguna, bahkan menyulitkan saya memahami maksud penulis. Akhirnya saya kembali ke buku aslinya yang dalam bahasa Inggris. Anda yang sering membaca buku teknik dalam bahasa Inggris pasti mengalami hal yang serupa dengan yang pernah saya alami. Buku terjemahan mendistorsi maksud dan membuat kita pembacanya malah berpikir 2 kali mengartikan kata terjemahannya. Aneh, bukannya memudahkan malah membuat kita berpikir dua kali.
Sebagai orang yang belajar menggunakan Bahasa Indonesia dengan tepat, saya mencari solusi lain ketika harus menulis kata-kata serapan. Saya menulis kata aslinya dengan huruf miring/italic (nah kan bingung lagi, italic = huruf miring
) Menurut aturan EYD, memang kita boleh menulis istilah dalam bahasa asing asalkan ditulis dengan huruf miring. Tapi bayangkan sebuah buku yang banyak memuat istilah asing, seluruh buku akan dihiasi dengan kata-kata yang tercetak miring.
Bukan bermaksud sombong dengan tidak mau menulis kata dalam Bahasa Indonesia, tapi hal ini kadang membuat maksud dan inti kalimat menjadi kabur. Kaidah Bahasa Indonesia sepertinya perlu direvisi sehingga mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam memahami teknologi informasi. Akan aneh jadinya ketika seseorang tekun memahami istilah teknologi yang sudah diserap ke dalam Bahasa Indonesia tetapi menjadi tolol ketika berhadapan dengan kata aslinya; demikian pula sebaliknya. Di era informasi yang semakin terbuka luas ini sangat besar kemungkinannya kita memperoleh informasi teknologi langsung dari sumber di luar negri dengan menggunakan internet. Teknologi yang ada mungkin belum ada di Indonesia. Kalaupun sudah ada, belum ada istilah serapannya. Jadi bagaimana kita harus berbahasa?
Pilihannya ada di penulis. Tetap menggunakan kata serapannya atau menulis kata aslinya dengan dicetak miring? Keduanya sah dari segi kaidah berbahasa Indonesia.
Ada sebuah artikel (atau lebih tepatnya kamus kecil) yang pernah saya dapat dari web milik Onno W.Purbo tentang istilah IT dalam Bahasa Indonesia. Anda bisa lihat di sini. Kadang saya juga mengacu pada kaidah tersebut, tapi lebih seringnya saya menulis istilah asing dengan huruf miring.
April 24, 2007 at 11:37 pm |
I can’t be more agree ’bout reading text books in their original language, in this case – english. It’s become our second language, sooner or later we’ll really need to master it.
Bout how to write the words from another language – ig i’m not mistaken, my prof. said that we have to write ‘em in italic style but just for the fist time use in the same article or books.. so the scond and the next should be written in normal style.
Well, you might wanna check again bout that, i’m not so sure.. I didn’t pay enough attention in class
April 24, 2007 at 11:53 pm |
@Miss Zane : maybe you must ask to your professor, where he/she get that rule. Everyone must have a good reason for everything he said.
April 25, 2007 at 1:31 am |
Apabila mengikuti kaidah tata bahasa Indonesia memang lebih dianjurkan untuk menggunakan istilah yang telah disepakati oleh Pusat Bahasa. Untuk lebih jelasnya anda bisa mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Memang akan terlihat aneh dan janggal karena masih dalam masa sosialisasi. Saran saya, apabila anda tetap ingin menggunakan istilah dalam bahasa Indonesia, maka di awal atau di akhir buku dibuat semacam daftar istilah yang baru tersebut. Dapat pula anda tuliskan keterangan menggunakan catatan kaki, akan lebih efektif menurut saya yaitu menggunakan kedua metode tersebut.
Akan tetapi apabila kata tersebut memang belum lazim dan disinyalir akan menimbulkan kerancuan atau bahkan belum ada istilah yang baku dalam bahasa Indonesia, maka bisa menggunakan kata aslinya. Untuk penulisan kata dalam bahasa aslinya harus italic / cetak miring pada setiap kali penulisannya, bukan hanya di awal. Karena tidak ada aturan bahwa pembaca harus membaca memulai dari awal buku dan itu mutlak dalam aturan kaidah bahasa Indonesia.
Demikian pendapat dari saya mengenai penulisan kata serapan.
Oleh: Budy Snake
Pengamat Bahasa Indonesia
April 25, 2007 at 1:58 am |
[...] sebuah blog yang saya baca beberapa saat lalu, saya membaca sebuah topik yang menarik mengenai Dilema Menulis Kata Serapan yang tepat sesuai kaidah tata bahasa Indonesia. Pada artikel yang ditulis oleh Sdr. Tedy [...]
May 28, 2007 at 11:27 pm |
Hai Budy Snake! Kamu benar tokoh pengamat Bahasa Indonesia?
September 18, 2008 at 11:04 pm |
ada gag kata serapan yang dari palembang?cari dimana kita?
April 28, 2009 at 4:00 pm |
aku ada tugas tenteng penerapan unsur dalam bahasa Indonesia. kamu bisa bantu aku?